Minggu, 15 Januari 2017

KUE SEMPRIT LOLON GEDANG, SI PAHIT ENAK YANG TERBUANG - PKM-K (PKM DI DANAI DIKTI Th. 2015)








USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
JUDUL PROGRAM
KUE SEMPRIT LOLON GEDANG, SI PAHIT ENAK
YANG TERBUANG

BIDANG KEGIATAN:
PKM-K

Di Usulkan oleh:

ABD.GAFUR                                    NIM. A1C012001     (2012)
AZIZATUL LUTFIAH                    NIM. J1A014012      (2014)
NUR JUMRATUL HASANAH      NIM. J1A014085      (2014)
NUR AZIZAH                                  NIM. C1K014070     (2014)
         

Ringkasan
Ide usaha ini berawal dari hasil penelitian salah satu rekan kami, Azizatul Lutfiah (Mahasiswi Fakultas Ilmu dan Teknologi Pangan UNRAM) yang menemukan metode dalam mengolah batang pepaya menjadi tepung yang mengandung karbohidrat yang cukup, yang mulanya batang pepaya ini banyak kami jumpai tergeletak menjadi sampah khususnya di Desa Dames kawasan NTB,  sehingga tidak jarang menggangu pemandangan dan terkesan merusak lingkungan. Hal ini kemungkinan akibat dari minimnya pengetahuan masyarakat tentang kandungan dan manfaat dari batang papaya itu sendiri.
Dengan olahan tepung ini memberikan kami peluang untuk mengolah kue yang cukup murah, populer, dan yang terpenting disukai oleh masyarakat. Kekhasan dari tepung ini terletak pada wangi alami yang dikeluarkan oleh tepung ketika sudah diolah menjadi kue. Dan tentu saja hal ini akan menjadi nilai tambah bagi produk yang dihasilkan sekaligus sebagai pembeda dari produk kue sebelumnya. Melalui kegiatan ini, tidak hanya akan menumbuhkembangkan jiwa wirausaha pada diri mahasiswa, melainkan juga melalui kegiatan ini mahasiswa secara kritis dapat memanfaatkan sumber daya alam yang mulanya dianggap sebagai masalah namun kemudian dapat dimanfaatkan dengan mudah.
Kegiatan usaha yang direncanakan selama empat bulan ini, dalam proses pelaksanaannya membutuhkan dana sebesar Rp 8.471.000. Dengan proses produksinya selama dua bulan akan didapatkan laba bersih sebesar Rp 3.810.000  dengan asumsi bahwa semua produk dapat laku terjual. Pengolahannya yang  cukup sederhana, baku yang cukup mudah didapatkan di NTB serta pangsa pasarnya yang masih cukup luas di NTB,  tentu saja hal ini menjadi peluang besar khususnya bagi para mahasiswa untuk bisa menjadikannya sebagai usaha. Selain itu juga, belum adanya usaha sejenis yang memanfaatkan batang pepaya sebagai bahan baku kue semprit, serta  kekhasan nya yang berbeda dari kue-kue sebelumnya, memunculkan keoptimasan kami atas prospek usaha ini kedepannnya. Melalui kegiatan ini juga menunjukkan bahwa sesuatu yang dianggap tidak ada nilai jualnya akan sangat bernilai ekonomis jika diolah dan dikemas dengan baik, dan harapan nantinya kegiatan ini mampu membuka peluang wirausaha mahasiswa sebagai pelaksana secara khusus, serta meningkatkan tarap hidup masyarakat pada umumnya.
Keywords : Batang Pepaya, Tepung, Kue Semprit



A. JUDUL     : Kue Semprit Lolon Gedang, Si Pahit Enak yang Terbuang

B. LATAR BELAKANG MASALAH
Sampai sekarang ini masih banyak masyarakat yang tidak mempedulikan pelestarian alam dan tidak memperhatikan lingkungan sekitar. Salah satu sumber limbah yang banyak dibuang oleh masyarakat adalah batang pohon pepaya (Carica papaya L) atau lolon gedang (Bahasa Sasak) terutamanya di desa Dames kawasan NTB. Tidak jarang batang pepaya yang sudah ditebang dibiarkan tergeletak menjadi sampah, bahkan merusak pemandangan dan kebersihan lingkungan, Padahal jika limbah batang pepaya tersebut dimanfaatkan tentunya akan memberikan nilai ekonomis, salah satunya adalah diolah menjadi tepung yang nantinya dapat dijadikan bahan baku pembuatan kue semprit yang banyak disukai oleh masyarakat NTB.
Selain itu, Selama ini pemanfaatan pohon pepaya terbatas pada buahnya saja, sehingga tidak jarang bagian-bagian dari pohon ini tidak memiliki nilai jual dan bahkan hanya menumpuk menjadi sampah organik. Selain itu, produk olahan buah pepaya yang ada cenderung menimbulkan kejenuhan masyarakat dikarenakan kurangnya inovasi dalam kualitas rasa dari produk olahan tersebut. Untuk itu diperlukannya produk alternatif supaya dapat memenuhi permintaan masyarakat. Adanya permasalahan ini membuat peluang pasar makanan sehat akan terbuka lebar. Salah satu cara untuk menarik perhatian masyarakat adalah membuat terobosan baru yang memiliki kandungan gizi tinggi, tetapi harganya dapat dijangkau masyarakat dengan pengolahan serta pengemasan ekonomis namun tetap sehat.
Di Provinsi NTB khususnya kota Mataram, salah satu peluang bisnis yang masih terbuka lebar adalah usaha di bidang jajanan kue. Hal ini dilihat dari tingginya tingkat konsumsi masyarakat. Namun, seiring meningkatanya harga bahan-bahan pembuatan kue seperti tepung terigu, menjadikannya sebagai salah satu faktor penghambat dari kelangsungan usaha jajanan kue tersebut. Hj. Husnanidiaty Nurdin, sebagai Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Nusa Tenggara Barat (NTB) juga pernah mengatakan “Ketergantungan masyarakat NTB terhadap pangan dari beras  saat ini masih cukup tinggi dan berada pada posisi kedua dari 33 provinsi di Indonesia. Begitu juga dengan impor tepung terigu untuk bahan baku kue” (http://www.ntbprov.go.id/). Data juga menunjukkan, Sejak kuartal III 2007, harga terigu di dalam negeri mulai mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya harga gandum dunia. Hingga saat ini, harga terigu di dalam negeri masih tinggi, yaitu pada kisaran Rp 7.600 per kg. Kenaikan harga gandum dunia yang signifikan hingga mencapai puncaknya pada kuartal I 2008, mengakibatkan lonjakan harga terigu di dalam negeri. Namun sejak kuartal II tahun 2008, harga gandum dunia terus mengalami penurunan hingga saat ini. Pada saat harga gandum dunia mengalami kecenderungan penurunan, harga terigu di dalam negeri masih tetap tinggi, meskipun stabil pada kisaran harga Rp 7.400-7.600 per kg. (Renstra Kementrian Perdagangan RI 2010-2014).
Menyingkapi permasalahan tersebut, maka diperlukan alternatif-alternatif kreatif guna menjawab tantangan tersebut. Oleh karena itu kami dalam perencanaan usaha ini mengusung judul yang memanfaatkan sumber daya lokal sebagai salah satu alternatif dalam mengurangi kebutuhan tepung terigu.
Adanya produk olahan dari tepung batang pepaya  ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat, dalam memproduksi kue yang memiliki nilai gizi tinggi. Dengan terobosan baru ini diharapkan akan membantu masyarakat untuk mendapatkan bahan-bahan subtitusi dalam pembuatan kue semprit yang bernilai sosial yakni membantu masyarakatat dalam mengurangi limbah organik yang ada. Dan  bernilai ekonomis, yakni salah satu alternatif peluang usaha, sehingga terciptanya lapangan kerja baru untuk mengurangi pengangguran terutama di kalangan mahasiswa.

C. RUMUSAN MASALAH
      Latar belakang menjadi permasalahan dalam proposal ini adalah sebagai berikut:
1.      Tingginya harga tepung terigu  sebagai bahan baku usaha kue sering kali menjadi faktor penghambat dari kelangsungan usaha kue semprit di NTB.
2.      Batang pepaya kaya akan karbohidrat belum banyak dimanfaatkan masyarakat NTB sebagai bahan baku pembuatan kue
3.      Konsep penyajian produk yang kreatif dan ramah lingkungan sehingga meningkatkan selera konsumen.
D. TUJUAN KEGIATAN
Secara rinci, tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai berikut :
1.      Membongkar keterbatasan yang ada pada diri mahasiswa untuk berwirausaha .
2.      Mempopulerkan batang pepaya sebagai pengganti tepung terigu dalam pembuatan kue semprit
3.      Menciptakan konsep pengabdian kepada masyarakat dengan membuka lapangan kerja baru yang mampu menaikkan taraf hidup warga di NTB
E. KELUARAN YANG DIHARAPKAN
Dengan ditemukannya sebuah metode untuk mengolah batang pepaya sehingga dapat bemanfaat, maka luaran yang diharapkan dari program ini adalah suatu produk yang sehat serta diminati oleh banyak masyarakat. Kue semprit terbuat dari tepung batang pepaya yang awalnya dibuang sebagai sampah dan menjadi limbah masyarakat ini diharapakan menjadi sebuah produk yang bernilai ekonomis dan sosial. Kue semprit  yang dihasilkan murah, dan kaya gizi. Dengan alasan ini kami berharap usaha kue semprit nantinya dapat dijalankan oleh mahasiswa dan memiliki keuntungan bisnis yang menjanjikan

F. MANFAAT KEGIATAN USAHA
1.      Bagi Pemerintah dan Dikti
Membantu pemerintah melalui instansi DIKTI untuk ikut serta membangun dan mengimplementasikan rencana bisnis berdasarkan bidang yang dipelajari mahasiswa menjadi suatu produk yang dapat membantu menangani permasalahan yang berkaitan dengan minimnya lapangan pekerjaan serta mengatasi segala permasalahan lingkungan yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
2.      Bagi Mahasiswa
Pelaksanaan program ini akan merangsang mahasiswa dalam menumbuhkan jiwa wirausaha serta menuntut mahasiswa untuk dapat bekerja dalam tim yang akan menumbuhkan kesolidan dan kekuatan tim. Program ini dapat menumbuhkan sikap kepedulian mahasiswa terhadap tuntutan sosial dan lingkungan masyarakat
3.      Bagi Masyarakat dan Mitra
Melalui program ini dapat memberikan pengatahuan bagi masyarakat untuk lebih mengenal secara luas manfaat dari sumber daya alam yang terkadang sebelumnya dianggap sebagai limbah.
G. GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA
Masyarakat NTB, terkenal dengan  prilaku konsumtif (doyan makan) dan rasa penasaran yang cukup tinggi terhadap adanya sebuah jajanan baru yang baru beredar di masyarakat. Perilaku konsumtif ini membuat masyarakat NTB tidak mampu menahan hasratnya untuk mencicipi sebuah inovasi baru yang beredar di masyarakat. Dengan melihat kehidupan masyarakat NTB yang kebanyakan menyukai makanan ringan daripada makanan dengan porsi banyak maka peluang pasar untuk produk kue dari batang pepaya ini masih terbuka lebar apalagi masyarakat pasti merasa bosan dengan produk kue yang biasa-biasa saja.
Oleh sebab itu, kami dari tim pelaksana akan berusaha untuk menjajankan produk kue ini dengan harga yang relatif terjangkau oleh keaadaan ekonomi masyarakat. Selain itu, kondisi alam NTB yang masih terjaga membuat pohon pepaya mudah sekali untuk tumbuh subur dengan sangat cepat. Ditambah lagi dengan keadaan ekonomi masyarakat NTB yang semakin hari semakin membaik,  memberikan peluang pasar yang sangat baik bagi berlangsungnya kegiatan usaha ini karena masih belum ada inovasi untuk mengolah batang pepaya menjadi kue sebelumnya, Sehingga  kegiatan usaha ini akan memberikan profit yang sangat tinggi bagi pengusung usaha.
Sampe saat ini kebanyakan mahasiswa pada umumnya masih banyak yang menjadi pengangguran walaupun sebenarnya mereka mempunyai kemampuan dalam berkarya, oleh karena itu dengan ditemukannya suatu cara dalam memanfaatkan batang pepaya ini sebagai bahan baku pembuatan kue maka akan membuka kesempatan besar tenaga kerja produktif yang awalnya masih menjadi pengangguran untuk terlibat dalam usaha ini. Dengan bahan baku tepung dari batang pepaya yang dapat dibuat sendiri, diharapkan akan dapat menghasilkan pemasukan yang relatif besar pula dibandingkan dengan modal yang dikeluarkan dalam proses produksinya.
1. Keberlanjutan Kegiatan
Program ini merupakan salah satu bentuk usaha yang menggunakan bahan baku batang pohon pepaya yang cukup mudah ditemukan, karena di daerah NTB sendiri terdapat berbagai lahan yang sudah dijadikan sebagai pengembangan pohon pepaya. Dengan metode mengolah batang pepaya menjadi tepung yang cukup mudah dan tidak memerlukan waktu yang cukup lama juga menjadikan usaha ini memang layak dikembangkan oleh masyarakat. Selain karena minat masyarakat terhadap jajanan seperti kue semprit sangat tinggi, juga karena bahan bakunya  yang mudah didapat dan dapat diproses sendiri tanpa memakan biaya yang relatif besar.
2. Rencana Produksi
Rencana produksi kue semprit adalah sebagai berikut :
a. 1 bulan:  100 toples
b. 2 bulan : 2   x 100 Toples  = 200 Toples
Harga kue semprit adalah Rp. 30.000 per toples
3. Analisis Keuangan
Investasi awal yang diperlukan:
1 buah Cangkul @Rp 75.000                                     = Rp 75.000
1 buah Linggis @ Rp 100.000                                    = Rp 100.000
1 mesin Penggiling @ Rp 350.000                             = Rp 350.000
2 paket Cetakan Kue @ Rp 25.000                            = Rp 50.000
200 Toples @ Rp 5.000                                              = Rp 1000.000
5 buah Nampan besar @ Rp 30.000                           = Rp 150.000
1 lusin Sendok @ Rp 15.000                                      = Rp 15.000
2 buah Setples @ Rp 15.000                                      = Rp 30.000
4 pasang Sarung Tangan Lateks @ Rp 5.000             = Rp 20.000
2 buah Timbangan Tepung  @ Rp 80.000                  = Rp 160.000
2 buah Golok @ Rp 80.000                                        = Rp 160.000
2 buah Pisau  @ Rp 50.000                                        = Rp 100.000
4 buah Telenan Kayu  @ Rp 15.000                           = Rp 60.000
3 buah Baskom  @ Rp 75.000                                    = Rp 225.000
2 Centong @ Rp 10.000                                                         = Rp  20.000
5 Loyang alumunium  @ Rp 10.000                           = Rp 50.000
2 Ayakan Rp 10.000                                                   = Rp 20.000
1  Plastik  @ Rp 4.000                                                = Rp 4.000
1 Mixer  @ Rp 250.000                                              = Rp 250.000
2 Kompor Gas @ Rp 350.000                                                = Rp 350.000
2 Oven @ Rp 300.000                                                = Rp 600.000
2 Kuas kue  @ Rp 10.000                                           = Rp 20.000
2 buah Tabung LPG @ 150.000                                 = Rp 300.000
 


Jumlah Investasi Awal                                              Rp 4.109.000

9. Biaya Operasional Per Bulan
10 bungkus Kapur sirih  @ Rp. 1000                         = Rp. 10.000
5 bungkus Garam @ Rp. 5.000                                  = Rp. 25.000
10 Kg Gula halus @ Rp. 20.000                                 = Rp. 200.000
80 butir Telur ayam @ Rp. 1.500                               = Rp. 120.000
5 Kg Susu Bubuk @ Rp. 40.000                                = Rp. 100.000
20 Tps Vanili @ Rp. 2000                                          = Rp. 40.000
6 Kg Butter @ Rp. 30.000                                         = Rp. 180.000
6 Kg Margarin @  Rp. 30.000                                    = Rp. 180.000
7 botol Selai Buah @ 10.000                                      = Rp. 70.000
2 Kg Tepung Maizena @25.000                                 = Rp. 50.000
1 buah LPG @ Rp.20.000                                          = Rp. 20.000
 


Jumlah Biaya Operasional  (1 Bulan)                     Rp. 1.095.000

Analisis Pendapatan dan Keuangan
Produksi 1 bulan                                 = 100 Toples
Produksi 2 bulan : 2 x 100                  = 200 Toples
Harga kue semprit yang ditawarkan   = Rp. 30.000  per Toples
Hasil penjualan 2  bulan                      = 200 x Rp. 30.000
= Rp. 6.000.000,00
Total biaya operasional 2 bulan           = 2 x Rp. 1.095.000
= Rp. 2.190.000
Keuntungan tiap 2 bulan                     = Rp. 6.000.000 – Rp. 2.190.000
= Rp. 3.810.000



H. METODE PELAKSANAAN
Program Kreativitas Mahasiswa bidang kewirausahaan ini terbagi menjadi tiga tahap :
1.      Tahap Persiapan dan Pengolahan
2.      Tahap Pelaksanaan Pemasaran
3.      Tahap Evaluasi

Bagan 1. Alur produksi Kue Semprit
 








·         Persiapan dan Pengolahan
Tahap persiapan dan pengolahan kue semprit batang pepaya terdiri atas dua proses yaitu pembuatan tepung batang pepaya dan pembuatan kue semprit.
Proses Pembuatan Tepung Batang Pepaya
1) Persiapan Alat dan Bahan
Sebelum membuat tepung batang pepaya, langkah awal yang akan kita lakukan adalah mempersiapkan alat dan bahan. Hal itu dilakukan agar dapat memperlancar proses pembuatan tepung batang pepaya sehingga dapat diolah menjadi kue.
Adapun tahap persiapan alat dan bahan meliputi:
Alat
Bahan
a.       Pisau                  
b.      Wadah
c.       Parut
d.      Penyaring
e.       Mesin penghalus
f.       Nampan

a.       batang pepaya
b.      Kapur



Cara Kerja Pengolahan  Batang Pepaya Menjadi Tepung
1)      Membersihan batang pepaya yang sudah dikupas dari kulit batang
2)      Memotong batang tersebut dengan ukuran yang lebih kecil
3)      Merendam batang pepaya dengan air kapur selama 1 hari (24 jam)
4)      ­Membersihkan batang yang sudah direndam tersebut sampai bersih
5)      Memarut atau menggiling batang pepaya sampai halus
6)      Memeras batang yang sudah digiling sampai benar-benar kering
7)      Mengeringkan hasil perasan tersebut dibawah sinar matahari
8)      Menggiling batang pepaya yang sudah kering hingga menjadi tepung

Proses Pembuatan Kue Semprit
1) Persiapan Alat dan Bahan
Sebelum membuat usaha kue semprit, langkah awal yang akan kita lakukan adalah mempersiapkan alat dan bahan. Hal itu dilakukan agar dapat memperlancar proses produksi kue semprit sehingga dapat diterima oleh konsumen. Selain itu kelengkapan alat dan bahan dapat menjadi indikator keberhasilan proses produksi yang berkualitas dan memiliki cita rasa yang disukai.
Adapun tahap persiapan alat dan bahan meliputi
Alat
Bahan
a.       Kompor
b.      Sendok
c.       Oven
d.      Cetakan (spuit)
e.       Plastik
f.       MiXer

c.       Tepung batang pepaya


Cara Kerja Pembuatan Kue Semprit dari Tepung Batang Pepaya
1)      Memasukkan margarin, gula, kuning telur, dan kocok hingga menyatu
2)      Menambahkan vanili dan mengaduk rata adonan hingga mengembang
3)      Mencampur adonan dengan tepung batang pepaya hingga menjadi adonan yang katalis dan siap dibentuk sesuai cetakan
4)      Mengoven hasil cetakan
·         Tahap Pelaksanaan Pemasaran
Pemasaran merupakan kegiatan yang sangat penting karena dengan pemasaran, produk yang dihasilkan dapat dikenal dan dipasarkan kepada konsumen. Pemasaran dapat dikatakan berhasil ketika terdapat suatu strategi pemasaran yang efektif dan menarik konsumen. Pada tahap pemasaran ini, meliputi pencarian tempat-tempat yang dapat membantu memasarkan produk kue semprit, misalnya warung, toko, swalayan, atau pasar yang dapat melakukan kerjasama dalam penjualan produk tersebut. Selain itu perlu adanya perjanjian kerjasama antara kedua belah pihak agar program ini dapat berjalan dengan baik.
·         Tahap Evaluasi
Pada tahap evaluasi, Kami akan melakukan kalkulasi / penghitungan hasil dan keuntungan atau kerugian yang diperoleh serta mengevaluasi segala factor yang mempengaruhi keuntungan atau kerugian tersebut, khususnya yang berasal dari luar. Kemudian kami juga akan mengevaluasi system manajemen dari tim kami sehingga segala kegiatan yang telah kami lakukan sesuai dengan prosedur yang di tentukan setelah itu akan dilakukan penyusunan laporan oleh tim pelaksana kepada tim pemantau / evaluator dari pusat
I. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN
4.1 Anggaran Biaya
No
Jenis Pengeluaran
Biaya (Rp)
1
Peralatan penunjang
4.109.000
2
Bahan Habis Pakai ( 2 bulan)
2.190.000

Biaya Perjalanan
250.000
4
Lain-Lain
1.922.000
Total
8.471.000

4.2 Jadwal Kegiatan
Kegiatan PKM-K ini akan dilaksanakan selama 4 bulan masa percobaan dengan penjabaran kegiatan sebagai berikut :
No
Kegiatan
Bulan ke-1
ke-2
Ke-3
Ke-4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1.
Breafing awal tim
















2.
Pengadaan alat dan bahan
















3
Riset pasar dan desain promosi

















4.
Produksi

















5
Pemasaran dan menjalin mitra usaha

















6
Monitoring dan Evaluasi Program
















7
Penyerahan Laporan

















N. DAFTAR PUSTAKA
Azizatul Lutfiah, 2013. Pemanfaatan Batang Pepaya Sebagai Alternatif Pengganti Tepung Terigu Dalam Pembuatan Kue Semprit.
http://www.ntbprov.go.id/. Di akses pada tanggal 22 September 2014, pada pukul 22.00 wita.
Renstra Kementrian Perdagangan RI 2010-2014
Lampiran 
Berikut ini merupakan hasil dari penelitian sebelumnya yang menghasilkan metode pengolahan batang pepaya menjadi tepung dan dan sekaligus  menjadi latar belakang kegiatan usaha ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar