Jumat, 18 November 2016

“LDK (LABORATORIUM DAKWAH KREATIF)” Optimalisasi Peran Lembaga Dakwah dalam Menciptakan Budaya Kampus Yang Islami Sebagai Upaya Dalam Pembentukan Karakter Anti Korupsi




“LDK (LABORATORIUM DAKWAH KREATIF)”  Optimalisasi Peran Lembaga Dakwah dalam Menciptakan Budaya Kampus Yang Islami Sebagai Upaya Dalam Pembentukan Karakter Anti Korupsi
Oleh :
JUARA TERBAIK 1 LOMBA ESSAY TINGKAT NASIONAL UNIVERSITAS JAMBI.
Abd.Gafur ( A1C012001), Fakultas Ekonomi Universitas Mataram, Angkatan Tahun 2012
CP : 082339512016

1. PENDAHULUAN
            Indonesia merupakan negara yang berbudaya. Dengan keragaman budaya yang dimiliki, tentu diharapakan Bangsa Indonesia memiliki karakter dan budi pekerti luhur. Namun realita di lapangan, terjadi degradasi moral yang mengancam masa depan Indonesia. Salah satu fenomena yang menjadi pembicaraan hangat semua kalangan adalah korupsi. Jumlah angka korupsi di Indonesia kian meningkat. Informasi tersebut tertera dalam artikel yang diakses dari ( http:/www.akhirzaman.info) yang menyatakan bahwa Indonesia merupakan Negara terkurup dari 16 negara tujuan inverstasi di Asia Pasifik. Sehingga Indonesia harus menanggung beberapa konsekusensi, seperti yang dijelaskan oleh (Maouro,1995) korupsi dapat memperlemah investasi dan pertumbuhan ekonomi suatu Negara.
            Korupsi adalah salah satu isu yang paling krusial yang sangat penting untuk di selesaikan bangsa ini. hal ini terlihat dari maraknya tindak pidana korupsi yang telah menyebar ke berbagai sektor pemerintahan, mulai dari pejabat Eksekutif, Legislatif hingga pejabat hukum (Yudikatif). Berikut tabulasi data penanganan Korupsi (oleh KPK) tahun 2004-2013 ( per 31 Oktober 2013, http :// acch.KPK.go.id
2007-2013 ( per 31 Oktober 2013, http :// acch.KPK.go.id

Penindakan
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
Jumlah
Peyelidikan
70
70
67
54
78
77
74
578
Penyidikan
24
47
37
40
39
48
59
342
Penuntutan
19
35
32
32
40
36
31
267
Inkracht
23
23
29
34
34
28
25
228
Eksekusi
23
24
37
36
35
32
36
240

     
    
Melihat table diatas, tentu timbul keprihatinan. Kemana akan dibawa bangsa yang berbudaya ini ? kemana akan dibawa harapan-harapan mereka yang berada di bawah ? bagaimana air mata itu akan dihapus ?.
Banyak yang menyatakan bahwa korupsi adalah budaya masyarakat Indonesia secara turun temurun bahkan menjadi warisan VOC yang kala itu adalah perusahaan besar Belanda di Indonesia yang Berjaya selama 297  tahun dan harus bangkrut akibat korupsi yang dilakukan oleh birokrat-birokrat di dalamnya. Sedangakan berdasarkan pasal 2 UU No.3 tahun 1999 korupsi adalah “Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara dan perekonomian negara. Ada beberapa sebab terjadinya praktek korupsi. Revida (2003) menemukan dalam penelitiannya bahwa penyebab terjadinya korupsi adalah kelemahan moral (41,3%), tekanan ekonomi ( 23,8%), hambatan struktural administrasi (17,2%), hambatan struktural social ( 7,08 %).
            Ketika kita berbicara mengenai korupsi dan mempertanyakannya “Kapankah kata korupsi akan lenyap dari Indonesia ?” maka jawabanya sederhana. “Lihat dan perhatikan pelaksanaan pendidikan Indonesia”, jika masih ada yang merelakan diri kehilangan kejujuran demi selembar ijazah, maka korupsi belum berakhir. Bahwasanya pendidikan sangat memperngaruhi kualitas moral seseorang. Pendidikan yang terlaksana dengan bijaksana, tentu akan memberikan hasil yang berbeda.
            Lalu siapa yang merelakan kehilangan karakter demi selembar ijazah ? semua tentu tahu “Generasi muda Indonesia“. Pemuda yang seharusnya menjawab harapan rakyat, pemuda yang seharusnya menjadi penghapus tangis rakyat. Apakah sistem pendidikan yang salah ?. Berjuta rakyat Indonesia menyalahkan sistem pendidikan. Padahal, sistem tidak pernah salah. Yang salah tentu orang yang menjalankannya. Pendidikan yang sesungguhnya adalah pendidikan yang mengedepankan transfer of value diiringi transfer of knowlage yang menjadi bekal manusia untuk hidup.
            Tujuan pendidikan nasional seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945,pasal 31 ayat 3 menyatakan bahwa “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdasakan kehidupan bangsa yang diatur dengan Undang-Undang”. Kemudian untuk melaksanakan amanah tersebut ditetapkan Undang-Undang Republik Indonesia nomer 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Dalam pasal 3 dijelaskan “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat watak serta peradaban kehidupan bangsa, bertujuan untuk dikembangkannya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
            Mahasiswa bisa dikatakan merupakan sosok manusia yang sudah mengenal arti dari kehidupan secara real. Ketika sesorang dengan gelar mahasiswa, bisa dikatakan bahwa Ia telah memiliki pola fikir yang sangat idealis, yakni pola fikir yang mengarah kepada kepentingan sosial. Sebagai generasi penerus bangsa, sudah barang tentu mahasiswa bisa dipandang sebagai benih yang dipersiapkan untuk difungsikan dikemudian hari. Untuk menciptakan benih yang berkualitas, tentu diperlukan lingkungan yang relatif kondusif, yang dipenuhi oleh nilai-nilai yang mengarah kepada karakter baik benih tersebut. Penerapan pendidikan karakter bangsa melalui pengembangan karakter individu peserta didik tidak dapat dipisahkan dari lingkungan sosial dan budaya peserta didik ( syawal,2012).
            Di setiap kampus kini telah tersebar berbagai bentuk organisasi dengan berbagai visi misi yang ditawarkannya. Mulai dari organisasi yang mengarah kepada perpolitikan, ekonomi masyarakat, dan tidak kalah eksisnya organisasi dakwah yang yang selalu berusaha menanamkan nilai-nilai keislaman dalam aktivitas kampus setiap harinya
            Jika dilihat dari fungsi dan tujuannya, organisasi dakwah kampus ini sudah barang tentu bisa dikatakan sebagai wadah yang sangat tepat untuk menjawab permasalahan yang terjadi ditengah masyarakat sekarang ini. dengan adanya wadah ini setidaknya akan memberikan kontribusi dalam penyaluran nilai-nilai moral kepada calon-calon penerus bangsa kelak. namun dari hasil pantuan sampai sekarang ini, meskipun telah banyak berdiri organisasi dakwah kampus disetiap universitas, ternyata belum memperlihatkan hasil yang begitu signifikan. Bisa dilihat dari jumlah anggota atau kader yang berada dalam organisasi tersebut. Tidak sedikit organisasi dakwah ini memiliki kader yang memprihatinkan, padahal dari segi tugas di dalam kampus, untuk menciptakan budaya yang islami tentu harus memiliki sumber daya yang memadai.
            Oleh sebab itu diperlukan solusi untuk membangun lembaga dakwah yang lebih kreatif. Sudah saatnya membangun lembaga yang bisa menjadi tempat bereksperimen dalam memformulasikan dan membentuk strategi jitu dalam menciptakan karakter seseorang. Tempat meracik segala obat yang tepat bagi beberapa pasien yang memerlukan. Dan sudah saatnya lembaga ini memiliki dokter karakter yang berkualitas dan profesional dalam hal pemberdayaan sosial di areal kampus.
Peran Mahasiswa dalam dakwah islam
Dakwah islam di kampus-kampus telah mengalami banyak perkembangan. Perubahan dan perbaikan yang terjadi serta hasil-hasil sedikit demi sedikit dapat dirasakan. Pengelolaan dakwah kampus dengan manhaj dakwah kampus telah mengantarkannya pada kondisi seperti hari ini. Bergulirnya secara masif konsep dan format da’wah kampus yang didasarkan pada tiga kompetensi peran dan fungsi mahasiswa telah juga memperlihatkan pencapaian dan perkembangan yang dapat dicermati.Mengacu pada konsep dan formulasi dakwah kampus yang telah digulirkan, yaitu bahwa mahasiswa memilki setidaknya 3 peran dan fungsi besar diantaranya;
Pertama: peran dan fungsi da’wiyah, sebagai benteng moral . Dimana seorang mahasiswa muslim dengan keislamannya menjadi sosok manusia berkepribadian Islam yang hidup di tengah masyarakat kampus dan menyebarkannya kepada yang lainnya. Dengan berpagar pada prinsip, nilai dan norma Islam, pribadi–pribadi ini hidup bersama dan berjalan dalam lingkungan kampus, yang dikemudian hari diharapkan terbangun sebuah komunitas mahasiswa sebagai sebuah entitas moral yang masif (moral credibility).
Kedua : peran dan fungsi intelectual, sebagai iron stock (cadangan keras). Tak dapat dipungkiri, keberadaan mahasiswa di kampus pada dasarnya mereka adalah orang-orang yang mencari tetes demi tetes tinta ilmu yang mengalir dalam bangku kuliah. Ini adalah misi asasi ketika seseorang memasuki dunia kampus sebagai mahasiswa. Sehingga budaya, kebiasaan dan cara berfikirnya pun disinergikan dengan berbagai hal yang melingkupinya sebagai intelektual. Cerdas, objektif , argumentatif, ilmiah dan semangat berprestasi, itulah kira-kira serentetan sosok yang melekat pada dirinya. Dan secara futuristik kelompok masyarakat terbatas inilah yang akan banyak berperan dalam banyak partisipasi kehidupan bermasyarakat dan bernegara secara langsung. Jumlahnya memang terbatas dibandingkan orang kebanyakan. Karena memang kesempatan memperoleh pendidikan yang layak dinegeri ini masih terbatas. Inilah yang coba dikembangkan oleh da’wah kampus untuk membangun barisan intelektual yang cerdas, objektif, argumentatif, ilmiah dan semangat berprestasi yang berafiliasi pada Islam. Sehingga komunitas yang terbangun menjadi sebuah entitas intelektual yang bervisi keummatan. (Intelectual credibility).
Ketiga : peran dan fungsi siyasiyah sebagai agent of change (agen perubahan).
Sudah menjadi tabiat sosial politik di dunia berkembang, di mana dalam proses penyelenggaraan bernegara dan bermasyarakat acapkali terjadi ketimpangan sosial yang tak terjembatani dan unbalancing power. Pada kondisi seperti ini biasanya, kampus dan mahasiswa sebagai bagian dari gerakan pro demokrasi dan perubahan, memainkan perannya secara signifikan sebagai jembatan sosial dan balancing power. Tak pelak lagi, layaknya kekuatan politik, gerakan mahasiswa mengambil perannya sebagai ‘oposisi’ bagi kekuasaan dengan ciri dan gayanya yang khas. Dalam kondisi yang demikian, da’wah kampus mengambil bagian perannya dalam menjembatani ketimpangan sosial tersebut, dan menjadi penyeimbang kekuasaan melalui gerakan mahasiswanya, dan tentunya dengan visi mengarahkan itu semua agar terjadi perubahan kearah yang lebih baik serta berpihak kepada ummat. (Social Political Crediblity)
Formulasi Dakwah Kampus kreatif
Tak bisa kita elakkan pula dalam penyusunan strategi ini, kondisi mahasiswa dan lingkungannya sangat unik. Sebutlah di Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), di mana sebagian mahasiswanya mungkin sudah paham Islam, sehingga mereka menilai mengikuti LDK menjadi tidak ada manfaatnya. Akhirnya dibutuhkan pola dakwah khusus di mana organisasi dakwah menjadi seperti pusat Inkubasi Pemikiran Islam, barulah banyak yang mengikuti. Karena, para mahasiswa disana justru melihat organisasi dakwah sebagai tempat belajar Islam yang lebih advance. Dalam tulisan ini ada beberapa langkah yang dapat ditempuh oleh lembaga dakwah dalam meningkatkan kapasitas serta pengaruh yang lebih luas lagi dalam penanaman nilai islam di lingkungan kampus, di antaranya sebagai berikut :
1. Kreatif dalam Membuka Jaringan ke Tokoh
Membangun jaringan adalah sebuah langkah maju untuk mengembangkan lembaga dakwah. Jaringan di sini adalah pihak lain, selain lembaga dakwah yang bisa jadikan partner dalam bekerjasama untuk membesarkan lembaga dakwah atau mungkin jaringan ini bisa sebagai supporter  dari lembaga dakwah. Paradigma yang perlu dibangun dalam jaringan ini adalah, membangun jaringan bukan berarti ekspansi dakwah, akan tetapi dalam rangka membangun external support system bagi Lembaga dakwah itu sendiri
Tokoh adalah seseorang yang mempunyai pengaruh luas terhadap masyarakat pada tingkat tertentu dikarenakan potensi atau kekuasaan yang dimilikinya. Membangun jaringan ke tokoh publik bagi sebuah lembaga dakwah juga perlu dilakukan dalam rangka menguatkan kedudukannya di mata publik. Suatu lembaga yang diakui secara moral, sosial maupun politik oleh seseorang akan mempunyai sebuah gain power yang bisa digunakan untuk menguatkan daya aruh sebuah lembaga. Sebagai gambaran tokoh publik apa saja yang bisa dijadikan objek membangun jaringan, antara lain : Tokoh seni dan olahraga ; Tokoh sosial dan agama; Tokoh politik; Tokoh intelektual; duta besar;  Pengusaha; dan Pejabat pemerintahan.
Pada persiapan awal butuh disiapkan secara individu kader yang akan membangun jaringan ini, memang dalam membangun jaringan, akan ada sebuah tim yang fokus pada pembangunan jaringan ini, akan tetapi kemampuan dan kesiapan personal dalam tim tersebut harus disiapkan dengan baik.
1.      Setiap kader jaringan memiliki perangkat pembangun jaringan dan identitas lembaga. (seperti kartu nama atau jaket lembaga dakwah)
2.      Memiliki database pribadi untuk mendokumentasian jaringan yang akan dibangun.
3.      Tertanam pemahaman jaringan yang berjaringan. Dengan kata lain, jaringan yang ada merupakan sumber penemuan jaringan berikutnya.
4.      Kemampuan intrapersonal, adaptif, berkomunikasi, retorika, etika, bernegosiasi dan inisiatif yang baik.
5.      Tertanam bahwa jaringan yang dibangun akan dapat mendukung gerak lembaga dakwah
Sebagai individual perlu dibangun nilai-nilai di atas. Bentuk persiapan bisa dengan dua hal, yakni training dan sharing dengan kader yang lebih berpengalaman. Kemampuan membangun jaringan perlu dilatih dan diasah, tidak cukup hanya dnegan pandai berkomunikasi maka ia sudah bisa dikatakan ahli jaringan, seorang kader perlu punya kemampuan lebih dari itu, ia harus berkemampuan adaptif dengan baik, etika publik yang bisa diterima oleh siapapun, serta kemampuan intrapersonal yang baik.
2. Kreatif Terhadap Teknologi
Di balik perkembangan teknologi yang begitu pesat, ternyata masih banyak kader dakwah yang belum juga mengenal apalagi akrab dengan teknologi yang sudah jelas membantu perjuangan dakwah itu sendiri. Setelah memposisikan diri terhadap teknologi, inilah “PR” organisasi dakwah selanjutnya, mengenalkan kader-kadernya dengan teknologi. Terkadang ada tugas dakwah yang urgen, seperti publikasi kegiatan syiar Islam atau mengklarifikasi isu-isu terhadap Islam. Salah satu contoh pentingnya teknologi yaitu ketika di Jerman diadakan voting mengenai keberadaan Islam. Suara umat sangat menentukan dihapus atau tidaknya Islam dari negara itu.  Pada saat-saat seperti inilah dibutuhkan kader sigap, tanggap, dan cekatan yang keahliannya dapat dimanfaatkan kapan pun dan dimana pun. Dengan teknologi, seperti e-mail juga dapat segera mengetahui keadaan saudara/saudari kita di Palestina. Sebuah surat yang dikirim saudara kita langsung dari Palestina mengetuk pintu hati kita untuk selalu bersyukur dan tetap memperjuangkan Islam.

Saat itu, hanya dengan e-mail mereka bisa mengabarkan kita. Inilah yang Allah sebutkan dalam firmanNya “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu merugi. Kecuali mereka yang beriman dan banyak berbuat amal shaleh dan saling berpesan-pesanan satu sama lain dengan kebenaran dan kesabaran” (Q.S. Al Ashr:1-3). Kini kader dakwah tidak perlu memandang teknologi sebagai suatu petaka karena status petaka atau rahmat tergantung dari niat seseorang dalam pemanfaatannya. Karena kita menggunakan teknologi sebagai sarana dakwah, tentu teknologi adalah rahmat bagi kita semua.

NB : Daftar pustaka sengaja tidak di sertakan.
Dilarang keras mengcopy paste tanpa izin penulis 

Optimalisasi Potensi Gunung Rinjani Sebagai Geotoursm Destination Dalam rangka Menuju Global Geopark Network (GGN) , melalui Program BREC (Berugaq Rinjani Education Center) Based Community (Study kasus : Desa Senaru, kabupaten Lombok Utara, NTB)



Optimalisasi Potensi Gunung Rinjani Sebagai Geotoursm Destination Dalam rangka Menuju Global Geopark Network (GGN) , melalui Program BREC (Berugaq Rinjani Education Center) Based Community

(Study kasus : Desa Senaru, kabupaten Lombok Utara, NTB)
(JUARA 1 LOMBA KARYA TULIS ILMIAH TINGKAT BALI-NUSRA 2015_Abd.Gafur_abd.ghafur@unram.ac.id_082339512016)
Dosen pembimbing : Drs. Sarifudin, MM

ABSTRAK
Belum adanya lumbung pengetahuan di kawasan dusun tradisional Senaru adalah satu faktor di mana masyarakat belum mampu mendayagunakan potensi lokal untuk mendongkrak kesejahteraan dan melestarikan Gunung Rinjani. Masyarakat yang hidup di sekitar hutan sudah bergantung pada hasil hutan, sedangkan populasi penduduk semakin meningkat setiap tahun, sehingga tidak heran jika saat ini masih banyak ditemukan tindakan-tindakan  seperti penebangan liar serta pembakaran hutan, untuk itulah diperlukan sebuah solusi Di sisi lain, berbagai upaya telah dilakukan untuk mempersiapkan rinjani untuk masuk dalam Global Geopark Network (GGN), termasuk bagaimana mengoptimalkan potensi sumber daya manusia di daerah kawasan sehingga mampu mendayagunakan serta melestarikan potensi rinjani. Maka dari itu, munculnya ide pemberdayaan melalui Berugaq RINJANI Education Center (BREC) merupakan sebuah upaya yang bertujuan untuk membangun pendidikan secara berkelanjutan di kawasan Gunung Rinjani. BREC Senaru juga sebagai wadah pendidikan alternatif (sekolah alam) bersama. Dalam penyusunan karya tulis ini, langkah yang dilakukan penulis adalah mengumpulkan data dan informasi yang diperoleh dari buku, internet, dan beberapa jurnal lainnya. Selanjutnya penulis mengolah data tersebut dengan metode analisis deskriptif dan menfokuskan pada solusi penyelesaian masalah yang terjadi di kawasan Gunung Rinjani. Terdapat beberapa kesimpulan yang dapat dari diperoleh dari pembahasan karya tulis ini, yakni Gunung Rinjani secara administratif dan potensi alam sangat siap untuk masuk dalam Global Geopark Network (GGN) yang ditunjang dengan program BREC untuk memfasilitasi masyarakat untuk membangun kesadaran dan partisipasi dalam memanfaatkan potensi kawasan Gunung Rinjani.
keyword : Geopark,Gunung Rinjani, Pemberdayaan, Desa Senaru


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan yang dikaruniai kekayaan alam yang sangat melimpah, termasuk kekayaan keragaman geologi (geodiversity). Banyak dari keragaman geologi itu  merupakan warisan geologi (geoheritage) yang penting untuk pendidikan maupun sebagai aset wisata. Dalam rangka upaya melestarikan warisan geologi dan sekaligus memperoleh manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat dari keberadaan warisan geologi tersebut, maka konsep pembangunan melalui pengembangan taman Bumi atau Geopark kini menjadi pilihan yang menarik, termasuk di Indonesia (Masrul,2014)
Gunung rinjani sebagai icon pulau lombok yang merupakan kawasan strategis pariwisata Daerah (KSPD) ditetapkan dengan peraturan Daerah nomor 7 tahun 2013 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (Ripparda) dan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN)  yang telah ditetapkan dengan Peraturan pemerintah Nomer 20 tahun 2011 tentang rencana Induk pembangunan kepariwisataan Nasional (Ripparnas), telah resmi menjadi Geopark Nasional sejak tahun 2013 (Disbudpar.ntbprov.go.id, 2014). Sekarang ini, Gunung Rinjani dalam proses persiapan untuk diusulkan Pemerintah RI ke UNESCO sebagai Geopark Dunia pada 2016. Rencananya, Rinjani akan diusulkan bersama Gunung Merangin di Jambi (lombokpost.com,2015). Penetapan Geopark Nasional sebagai anggota GGN UNESCO akan menjadi ikon baru pariwisata Indonesia yang berbasis masyarakat dan konservasi sehingga lebih menarik minat wisatawan mancanegara untuk berkunjung
Namun permasalahannya, kesiapan sumber daya manusia dikawasan rinjani dinilai masih cukup rendah.  Ditengah potensi besar kawasan tersebut terdapat potret pendidikan yang menjadi ironi dan sekaligus mengusik nurani. Masyarakat disekitar kawasan hutan umumnya, mempunyai tingkat pendidikan yang masih kurang, dengan rata-rata pendidikan sampai sekolah dasar (SD),  meski ada juga yang sampai SLTP , SLTA sampai perguruan tinggi, tapi jumlahnya sangat kecil sekali (Departemen kehutanan, resume pengkajian zonasi Taman Nasional Gunung Rinjani, 2010). Sehingga dari rendahnya tingkat pendidikan tersebut berdampak pada kesenjangan social serta munculnya berbagai prilaku menyimpang dari masyarakat sekitar kawasan gunung rinjani seperti eksploitasi berlebihan terhadap kawasan hutan gunung rinjani.
Berbagai kebijakan dan program pemerintah dan para pihak yang berorientasi pada upaya pelestarian sumber daya hutan dan peningkatan ekonomi dan taraf hidup masyarakat sekitar hutan, khususnya di kawasan hutan Gunung Rinjani, telah banyak diimplementasikan. Program hutan kemasyarakatan (HKm) yang dilaksanakan oleh pemerintah sejak tahun 1998 di Pulau  sebagai contoh diakui telah mampu meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar kawasan hutan (Amiruddin, 2005; Faperta Unram, 2007). Tapi bersamaan dengan pelaksanaan HKm tersebut, justru dilaporkan kerusakan sumber daya hutan semakin meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan masyarakat melalui program HKm belum mampu memotivasi masyarakat untuk ikut melestarikan sumber daya hutan. Hal ini juga sangat tergantung pada pengetahuan, kesempatan, karakter individu, orientasi nilai, dan kesadaran masyarakat itu sendiri.
Jika permasalahan ini terus berlanjut, tentu akan menjadi kendala dalam proses persiapan rinjani menjadi geopark dunia. Mengingat dalam Guidelines And Criteria For National Geoparks Seeking Unesco’s Assistance To Join The Global Geoparks Network (GGN) (2010) Dijelaskan bahwa geopark tidak hanya sekedar dilihat dari sisi kegunungapian belaka. Faktor budaya dan pola kehidupan masyarakat di sekitarnya ikut menjadi pertimbangan utama. Pembentukan Geopark harus didasarkan pada dukungan masyarakat yang kuat dan keterlibatan masyarakat lokal, dikembangkan meskipun "bottom-up" proses. Ini harus menunjukkan dukungan yang kuat dari para pemimpin politik dan masyarakat setempat, termasuk dalam kaitannya dengan penyediaan sumber daya keuangan yang diperlukan. Geopark harus memiliki struktur manajemen yang efektif dan profesional, memberikan kebijakan dan tindakan untuk pembangunan sosial-ekonomi dan budaya yang berkelanjutan di seluruh daerah wilayah di mana ia berada. Kesuksesan hanya dapat dicapai melalui keterlibatan masyarakat lokal yang kuat. Inisiatif untuk membuat sebuah Geopark karena itu harus datang dari masyarakat lokal / pemerintah dengan komitmen yang kuat, sementara untuk melindungi daerah di mana mereka tinggal perlu mengembangkan dan menerapkan rencana manajemen yang memenuhi kebutuhan masyarakat dan ekonomi penduduk Lokal
Jika melihat peta permasalahan yang diuraikan di atas, disebabkan karena masih minimnya sarana dan  prasarana pendidikan  sekitar kawasan Gunung rinjani yang menjadi faktor  masyarakat belum mampu mendayagunakan potensi lokal untuk mendongkrak kesejahteraan pada khususnya dan melestarikan Gunung Rinjani pada umumnya. Sehingga penulis mencoba menggagas sebuah ide yang diberi judul Optimalisasi Potensi Gunung Rinjani Sebagai Geotoursm Destination Dalam rangka Menuju Global Geopark Network (GGN) , melalui Program BREC (Berugaq Rinjani Education Center) Based Community dengan study kasus di Desa Senaru, yakni salah satu desa di kawasan gunung rinjani yang terletak di kabupaten Lombok Utara, NTB.
1.2   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang dapat diambil yakni
1.      Bagaimana Kesiapan Gunung rinjani untuk masuk ke dalam Global Geopark Network (GGN) ?
2.      Bagaimanakah implementasi BREC (Berugak Rinjani Education Center) dalam mengoptimalkan potensi rinjani sebagai Geotoursm Destination ?
1.3  Tujuan penulisan
Adapun tujuan dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui sejauh mana kesiapan gunung Rinjani untuk masuk ke dalam Global Geopark Network (GGN)
2.      Untuk merumuskan strategi impelementasi dari BREC (Berugak Rinjani Education Center) dalam mengoptimalkan potensi rinjani sebagai Geotoursm Destination
1.4  Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah
1.      Bagi penulis
memperoleh pengalaman serta berbagai strategi dalam upaya membantu peningkatan masalah sosial masyarakat. Di samping itu, penulisan ini juga bisa menjadi refrensi untuk penulisan karya tulis berikutnya.
2.      Bagi masyarakat
Melalui tulisan ini dapat membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, serta mampu memaksimalkan potensi gunung rinjani
3.      Bagi pemerintah
Tulisan ini dapat menjadi pertimbangan dalam upaya membantu pemerintah guna meningkatkan pengetahuan masyarakat disekitar kawasan gunung rinjani sehingga meminimalisir tingkat kerusakan yang terjadi di kawasan gunung rinjani.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu
Untuk mendukung karya tulis ini, maka diperlukan beberapa penelitian terdahulu sebagai rujukan. Adapun penelitian terdahulu yang dianggap berkaitan dengan karya tulis yang dibuat yaitu:
1.      Penelitian tentang Geopark juga telah dilakukan oleh Farsani, dkk (2011) dengan judul “Geotourism and Geoparks as Novel Strategies for Socio-economic Development in Rural Areas”. Dengan menganalisa strategi geowisata di 25 geopark di dunia, penelitian ini menemukan bahwa pembentukan geopark dapat menghasilkan peluang kerja baru, kegiatan perekonomian baru, dan sumber tambahan pendapatan, terutama di daerah pedesaan. Pembentukan itu mendorong produksi lokal dan kerajinan lokal yang terlibat dalam Geotourism. Dalam penelitian ini, penulis hanya mencoba menguraikan tentang bagaimana melakukan pemberdayaan yang terfokus pada perspektif ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
2.      Penelitian yang dilakukan oleh  M. Siddik, Amiruddin dan Nuning Juniarsih yang berjudul Perilaku ekonomi masyarakat miskin di sekitar kawasan hutan gunung rinjani pulau Lombok(2013) Dalam penelitian ini penulis hanya menguraikan tentang prilaku menyimpang masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya di kawasan hutan gunung rinjani.
Dari kedua penelitian ini memiliki perbedaan dengan tulisan yang dibuat oleh penulis sekarang ini, terutama dalam hal perspektif yang digunakan. Penelitian pertama menguraikan perspektif ekonomi sedangkan penulisan saat ini lebih luas yakni pendidikan masyarakat, baik itu mengarah kepada pendidikan untuk pengetahuan mengelola lingkungan dan menata perekonomian. Sedangkan penelitian kedua juga hanya memaparkan mengenai prilaku menyimpang dikawasan hutan rinjani. Sehingga dapat penulis simpulkan bahwa tulisan ini memiliki perbedaan dari penelitian sebelumnya.
2.2  Gambaran Umum Desa Senaru
Desa Senaru merupakan bagian dari pemerintahan desa Bayan.  Desa yang luasnya sekitar 44 km2 ini terdiri dari 11 dusun yakni: Dasan  Baro, Sembulan Batu, Telaga Lenggundi, Kebaloan, Bon Gontor, Oma Segoar,  Lokoq Klungkung, Tumpang sari, Pawang Kreok, Lendang Cempaka dan Senaru. Dusun Senaru merupakan bagian dari lereng gunung Rinjani  dengan curah hujan rata-rata 2.379 mm/tahun, berketinggian sekitar 560 m dari permukaan 
laut (library.ohiou.edu)

Analisis Kondisi Masyarakat
Dari segi pendidikan formal, tingkat pendidikan masyarakat asli di dusun 
Senaru sangat rendah yakni hanya 12,5 %. Proses 
pendidikan yang dominan di kalangan masyarakat adat Senaru dari proses 
pengamatan adalah dalam kegiatan keseharian misalnya pelibatan anak dalam 
kegiatan di ladang maupun pekerjaan-pekerjaan domestik. Sedangkan proses 
pendidikan dalam hal agama, adat dan sistem kepercayaan nampak berjalan manakala dilangsungkan upacara adat ataupun keagamaan. Hampir semua anggota masyarakat asli Senaru menggantungkan hidupnya pada perladangan, sebagian kecil diantaranya sambilan berdagang, menjadi pramuwisata, porter dan beternak.  Sampai sekarang ini pun masih adanya sistem barter dalam transaksi jual beli, sehingga membuat uang yang beredar di lingkungan masyarakat asli Senaru sangat kecil (library.ohiou.edu)
2.3 Pengertian Geopark dan Syarat Menjadi Global Geopark Network (GGN)
Menurut UNESCO (2004), Geopark adalah sebuah kawasan yang memiliki unsur-unsur geologi terkemuka (outstanding) termasuk nilai arkeologi, ekologi dan budaya yang ada di dalamnya di mana masyarakat setempat diajak berperan-serta untuk melindungi dan meningkatkan fungsi warisan alam. Melalui Geopark, warisan geologi itu digunakan untuk mendorong kesadaran masyarakat atas isu-isu yang dihadapinya berkaitan dengan dinamika kebumian yang terjadi di sekitar mereka. Sehingga masyarakat dapat lebih menghargai warisan yang ada dan memiliki kesadaran untuk menjaga warisan tersebut.
            Berdasarkan Guidelines And Criteria For National Geoparks Seeking Unesco’s Assistance To Join The Global Geoparks Network (GGN) ( 2010), bahwa terdapat beberapa persyarakatan yang harus dipenuhi untuk menjadi Global Geopark Network (GGN), yakni :
1.      Ukuran dan pengaturan
Sebuah Geopark yang ingin menjadi anggota dari GGN adalah daerah dengan batas-batas yang jelas dan area yang cukup besar untuk itu untuk melayani pembangunan ekonomi dan budaya lokal (khususnya melalui pariwisata). Setiap Geopark meskipun harus menampilkan berbagai situs internasional, regional dan / atau kepentingan nasional, sejarah geologi suatu daerah, dan peristiwa-peristiwa dan proses yang membentuknya. Situs mungkin penting dari sudut pandang ilmu pengetahuan, pendidikan kelangkaan, dan / atau estetika.
2.      Manajemen dan keterlibatan masyarakat lokal
Sebuah prasyarat untuk setiap proposal yang disetujui Geopark adalah pembentukan sistem manajemen yang efektif dan program pelaksanaan. Kehadiran singkapan geologi mengesankan dan internasional signifikan saja tidak cukup untuk menjadi Geopark . Apabila diperlukan, fitur geologi dan non-geologi dalam area Geopark harus dapat diakses oleh pengunjung, terkait dengan satu sama lain dan dijaga meskipun pengelola (manajemen) yang jelas bertanggung jawab atau kemitraan yang memiliki dukungan lokal dibuktikan. Pengelola (manajemen) atau kemitraan harus memiliki infrastruktur manajemen yang efektif, personil yang berkualitas yang memadai, dan dukungan keuangan yang berkelanjutan.
3.      Pembangunan ekonomi
Salah satu tujuan strategis utama Geopark adalah untuk menstimulasi kegiatan ekonomi dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. Sebuah Geopark mencari bantuan UNESCO berfungsi untuk mendorong pembangunan sosio-ekonomi yang secara kultural dan lingkungan yang berkelanjutan. Ini memiliki dampak langsung pada daerah yang terlibat dengan meningkatkan kondisi kehidupan manusia dan lingkungan pedesaan dan perkotaan. Ini memperkuat identifikasi penduduk pada daerah mereka, dan merangsang "kebanggaan tempat" dan pengembangan budaya, yang pada gilirannya membantu perlindungan langsung dari warisan geologi
2.4  Konsep Pemberdayaan BREC (Berugaq Rinjani Education Center) Based Community
Keterlibatan warga dalam pengembangan pariwisata menjadi hal yang krusial, sebab dari merekalah akan diketahui dan dipahami sejauh mana potensi wilayahnya. Selain itu, keterlibatan ini sangat penting untuk mendapatkan dukungan dan memastikan bahwa hal yang akan diperoleh berkaitan dengan kebutuhan dan keuntungan warga setempat.Partisipasi masyarakat hakekatnya bukan semata mendorong terjadinya proses penguatan kapasitas masyarakat lokal, namun dapat berlaku sebagai sebuah mekanisme guna meningkatan pemberdayaan bagi warga untuk terlibat dalam pembangunan secara bersama. Mubyarto (1988) menegaskan partisipasi merupakan kesediaan membantu berhasilnya program sesuai dengan kemampuan setiap orang tanpa berarti harus mengorbankan kepentingan sendiri. Partisipasi intinya ialah sikap sukarela dari masyarakat untuk membantu keberhasilan program pembangunan. Selain itu, partisipasi juga dapat dimaknai sebagai bentuk keterlibatan mental sekaligus emosional seseorang dalam situasi kelompok yang mendorong mereka untuk ikut serta menyumbangkan kemampuan dalam mencapai tujuan kelompok dan ikut bertanggung jawab atas tujuan kelompok tersebut.
BREC merupakan wadah pendidikan alternative bersama yang di desain sebagai sekolah alam untuk masyarakat kawasan rinjani, khususnya di desa senaru. Munculnya konsep pendirian wadah pendidikan ini tentu tidak terlepas dari tujuan yang ingin dicapai yakni ; (1) Sebagai tempat alih pengetahuan antara wisaatwan/pendaki dan masyarakat adat, (2) Sebagai tempat memperkenalkan Gn. Rinjani dan adat sasak (3) Sebagai shelter digital masyarakat/wisatawan/pendaki.
Kehadiran BREC di tengah-tengah masyarakat diharapkan akan membangun kesadaran yang pada akhirnya menciptakan partisipasi masyarakat untuk membangun potensi local, khususnya di kawasan gunung rinjani.  Dengan adanya kesadaran dan partispasi yang tinggi tentu saja akan melahirkan keoptimisan untuk menjadikan Rinjani sebagai salah satu geopark yang masuk dalam Global Geopark Network (GGN)

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Tulisan
Penulisan ini merupakan jenis penulisan deskriptif dengan pendekatan kualitatif yaitu prosedur penulisan yang menghasilkan data deskriptif (uraian terhadap suatu peristiwa atau masalah) berupa kata-kata tertulis dari orang-orang dan perilaku yang diamati tidak secara langsung, atau studi kasus tunggal dan dalam satu lokasi saja yang menekankan pada paradigma analisis masalah yang holistik dan rinci (Tim Penulis Universitas Negeri Malang, 2004).
3.2 Jenis Data
Dalam penulisan ini, jenis data yang digunakan adalah data sekunder, data sekunder yaitu sumber data penulisan yang diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara atau diperoleh dan dicatat oleh pihak lain. Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan, atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip (data dokumenter), baik yang dipublikasikan maupun tidak dipublikasikan (Moelong, 2004). Dalam melakukan pengkajian, data yang telah ada dari hasil peneliti-peneliti lain dikumpulkan dan diseleksi. Analisis dan sintesis dilakukan sehingga diperoleh suatu konsep bahwa terdapat korelasi positif antara efektifitas proses deradikalisasi dengan system pengembangan pancasila.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penulisan ini adalah: (1) Studi pustaka, (2) Dokumenter, (3) Diskusi dan (4) Intuitif-Subjektif (Indiarto dan Supomo, 1999).
3.4 Teknik Analisa Data
Berdasarkan permasalahan yang tertulis pada rumusan masalah dan pendekatan penulisan yang digunakan, penulis menganalisa data-data yang diperoleh dengan metode analisa deskriptif yang dilakukan dalam penulisan ini terjadi secara bolak balik dan berinteraktif, yang terdiri dari: 1) Pengumpulan data (data collection),2) Reduksi data (data reduction), 3) Penyajian data (data display), 4) Pemaparan dan penegasan kesimpulan (conclution drawing and verification) (Moelong, 2004).

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1  Kesiapan Gunung Rinjani Untuk Masuk ke Dalam Global Geopark Network (GGN)
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Tim Geopark Badan Geologi dan Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat, berupa dokumen (dosier) Geopark Rinjani Lombok sesuai dengan pedoman Geopark Global Network (GGN) UNESCO. Disamping itu telah dibuat pula tiga lampiran sebagai referensi yang terdiri atas Buku I (Referensi Geodiversity Geopark Rinjani Lombok), Buku II (Referensi Biodiversity Geopark Rinjani Lombok), dan Buku III (Referensi Cultural Diversity Geopark Rinjani lombok. Disamping telah berhasil menyusun dokumen (dosier), juga telah berhasil dibentuk kelembagaan secara demokratis yang akan mengelola Geopark Rinjani Lombok. Pengurus dari kelembagaan, terdiri dari berbagai unsur masyarakat dan pemangku kepentingan yang diikuti oleh empat kabupaten dan satu kota (Lombok Tengah, Lombok Barat, Lombok Timur, Lombok Utara , dan Kota Mataram). Khusus untuk situs- situs yang terdapat di kawasan Geopark Rinjani Lombok yang telah teridentifikasi adalah untuk situs geologi berjumlah 48 dan situs non geologi berjumlah 24 yang tersebar di bagian barat, utara, tengah, timur, dan selatan. Situs geologi yang dijumpai berupa pantai gunung api, pulau, air terjun, kaldera, kerucut gunung api, danau kaldera, aliran lava, gua, mata air panas,ignimbrit, dan lahan bekas tambang. Untuk situs non geologi antara lain terdiri dari situs keragaman flora dan fauna, serta situs budaya (Rachmat,2014)
Rinjani,diusulkan menjadi calon geopark dunia ke UNESCO karena memiliki sedikitnya lima hal pokok untuk menjadi geopark global.
1.      Gunung Rinjani memiliki nilai-nilai warisan geologi penting dari aspek kegunungapian, situs warisan alam berupa kaldera, kerucut-kerucut gunung api muda, lapangan solfatara, mata air panas, dan bentangan lainnya yang mempunyai nilai estetika tinggi seperti air terjun.
2.      Situs-situs geologi gunung api mempunyai makna bagi pengembangan ilmu pengetahuan kebumian dan pendidikan.
3.      Gunung Rinjani telah mempunyai badan pengelola, yakni Rinjani Tracking Manajemen Board (RTMB), yang melibatkan warga lokal setempat secara aktif.
4.      Penyelenggara pariwisata berbasis geologi yang telah banyak memberi manfaat berupa pertumbuhan ekonomi lokal melalui jasa pemandu, penginapan, rumah makan, transportasi, dan penjualan cendera mata.
5.      Sebagai bentuk keberhasilan pengembangan pariwisata karena Gunung Rinjani telah memperoleh tiga penghargaan internasional yakni "World Legacy Award" untuk kategori "Destination Stewardship" dari "Conservation International and National Geographic Traveler" 2004, finalis "Tourism for Tomorrow Award" masing-masing tahun  2005 dan 2008 (Geomagz, 2012)
Tabel 1. Rencana Usulan Indonesia Ke GGN UNESCO


4.2  Strategi Implementasi BREC (Berugaq Rinjani Education Center) dalam Memaksimalkan Potensi Gunung Rinjani
Dalam pengelolaan kawasan geopark terdapat tiga unsur utama, yaitu regulasi, infrastruktur, dan pemberdayaan masyarakat lokal (community development). (Geomagz,2012)

Gambar 2.  Pilar Pengembangan Geopark

Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Borrini- Feyerabend et al. (2000) bahwa kelestarian ekologi dan ekonomi dimungkinkan dapat dicapai bilamana pengelolaan sumberdaya senantiasa memperhatikan kehidupan dan penghidupan masyarakat lokal. pemikiran tersebut didasarkan pada sejumlah fakta bahwa masyarakat lokal terbukti mampu mengatur pembagian peran di antara mereka , memberi jaminan keadilan pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya hutan, serta tanggung jawab dalam mempertahankan kelestarian sumberdaya hutan.
Pembentukan Geopark harus didasarkan pada dukungan masyarakat yang kuat dan keterlibatan masyarakat lokal, dikembangkan meskipun "bottom-up" proses. Ini harus menunjukkan dukungan yang kuat dari para pemimpin politik dan masyarakat setempat, termasuk dalam kaitannya dengan penyediaan sumber daya keuangan yang diperlukan. Geopark harus memiliki struktur manajemen yang efektif dan profesional, memberikan kebijakan dan tindakan untuk pembangunan sosial-ekonomi dan budaya yang berkelanjutan di seluruh daerah wilayah di mana ia berada. Kesuksesan hanya dapat dicapai melalui keterlibatan masyarakat lokal yang kuat. Inisiatif untuk membuat sebuah Geopark karena itu harus datang dari masyarakat lokal / pemerintah dengan komitmen yang kuat, sementara untuk melindungi daerah di mana mereka tinggal perlu mengembangkan dan menerapkan rencana manajemen yang memenuhi kebutuhan masyarakat dan ekonomi penduduk local.
Gambar 3. Kerangka Pembangunan Geopark




            Oleh karena itulah diperlukan sebuah wadah yang lebih menyentuh lagi selain adanya lembaga formal yang jumlahnya pun relative sedikit untuk membangun sumber daya masyarakat dikawasan rinjani ini.  Wadah ini dinamakan BREC (Berugaq Rinjani Education Center), yakni sebuah wadah pendidikan alternative (sekolah alam) bersama. Adanya sinergisitas alih pengetahuan dari wisatawan/pendaki untuk meningkatkan kesadaran serta partisipasi masyarakat merupakan sebuah mimpi untuk diwujudkan bersama. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Drake dan Paula (dalam Garrod, 2001:6) adalah:
1)      mengkonsultasikan proyek dengan masyarakat atau melibatkan masyarakat dalam manajemen penerapan proyek atau pengoperasian proyek dapat meningkatkan efisiensi proyek.
2)      efektifitas proyek jauh lebih meningkat dengan mengikutsertakan masyarakat yang dapat membantu memastikan jika tujuan proyek bisa ditemukan dan keuntungan akan diterima kelompok atau masyarakat local.
3)      sebagai capacity building bagi kelompok masyarakat agar mereka memahami apa itu ekowisata dan peranannya dalam pembangunan berkelanjutan. (terjamin bahwa yang terlibat sangat nampak keikutsertaannya secara aktif dalam proyek dengan pelatihan formal atau informal serta kegiatan untuk meningkatkan keperdulian.
4)      pemberdayaan lokal meningkat dengan memberi masyarakat lokal kontrol yang lebih besar terhadap sumber daya dan memutuskan penggunakan sumber daya yang berpengaruh/penting sesuai dengan tempat tinggal mereka, artinya menjamin jika masyarakat lokal menerima keuntungan yang sesuai dengan penggunaan sumber daya.
5)      pembagian keuntungan dengan warisan lokal (lokal beneficiaries), misal biaya tenaga kerja, biaya keuangan, operasional dan perawatan proyek atau monitoring dan evaluasi proyek.
4.2.1        Pihak yang dapat mendukung keberlangsungan program BREC (Berugak Rinjani Education Center)
Dalam proses pemberdayaan melalui BREC, maka diperlukan adanya dukungan pihak-pihak tertentu yang diharapkan akan mampu membantu dalam keberlangsungan program tersebut. Adapun pihak-pihak tersebut antara lain :
1.      Pemerintah : peran pemerintah dalam hal ini adalah untuk menyediakan para ahli yang berkaitan dalam bidang pemberdayaan pariwisata sekaligus memberikan sarana dan prasarana dalam mendukung proses pemberdayaan.
2.      Akademisi: para peneliti yang merupakan salah satu penggerak dari inovasi ini berperan dalam meneliti lebih lanjut atas pendekatan-pendekatan pemberdayaan yang digunakan, serta mencoba mencari alternatif inovatif.
3.      Pelaku Bisnis, sebagai pendukung dalam bidang perekonomian, yakni sebagai tempat pemberdayaan masyarakat dalam bidang usaha.
4.      Masyarakat : memberikan persetujuan, dukungan, dan kepercayaan terhadap pemberdayaan yang dilakukan oleh seluruh stakeholders.
Gambar 4. Gambaran Struktur Kerjasama BREC dengan Stakeholders 



BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari uraian pembahasan di atas, maka terdapat beberapa kesimpulan yang di dapat, yaitu :
1.      Rinjani merupakan salah satu warisan geologi yang memiliki potensi cukup besar dan siap masuk ke dalam Global Geopark Network (GGN). Kesiapan ini terlihat dari dukungan dari sisi administratif oleh pihak pemerintah serta potensi alam rinjani yang sangat mendukung untuk dijadikan sebagai Geopark Dunia.
2.      Selain dari sisi administratife dan potensi alam, persyaratan lain  yang harus dipenuhi untuk masuk ke dalam Global Geopark Network (GGN) yaitu, adanya Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni untuk mampu mengolah kawasan rinjani. Karena dengan adanya masyarakat yang berkualitas, maka kelestarian dan kebermanfaatan kawasan rinjani dapat di optimalkan secara seimbang.
3.      Berugak Rinjani Education Center, merupakan salah satu program untuk mendukung terciptanya sumber daya manusia yang handal. Melalui pendekatan pemberdayaan yang berbasis masyarakat yang nantinya berdampak pada peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam mengoptimalkan potensi Kawasan Gunung Rinjani
5.2 Saran
Untuk menjamin kelancaran dari program ini, maka diperlukan sinergitas antar stakeholders (Pemerintah, Akademis, Pelaku Usaha, Masyarakat), sehingga dampak yang ditimbulkanpun lebih besar. 

*Daftar pustaka sengaja tidak dicantumkan
NB : Di larang keras menjiplak (copy paste) tanpa izin penulis :)