Memantapkan Peran Bank
Rakyat Indonesia (BRI) Dalam Pembangunan Pariwisata NTB Yang Berkelanjutan
Melalui “Symbiotic Mutualism Approach Based
A-B-G Perspective”
Oleh : Abd. Gafur_S1
Akuntansi_Fakultas Ekonomi dan Bisnis_Universitas Mataram
(JUARA I LOMBA ESSAY BANK BRI)
(JUARA I LOMBA ESSAY BANK BRI)
Pendahuluan
Jika menengok kondisi kekinian Provinsi Nusa
Tenggara Barat (NTB), maka hal pertama yang mungkin ada dibenak semua orang
adalah perkembangan pariwisatanya. Hal ini bisa dimaklumi, karena pemerintah
daerah NTB saat ini sendiri telah menetapkan pariwisata sebagai salah satu tonggak
utama dalam perekonomian NTB atau dengan kata lain menjadi prioritas utama
dalam program pemerintah daerah sekarang ini. Hal ini dapat terlihat dengan
maraknya program-program pemerintah yang lebih menekankan pada sektor
pariwisata. Dapat juga kita saksikan jika membuka data statistik Secara
kumulatif, selama Januari–Desember 2013, jumlah kunjungan wisman ke
Indonesia mencapai 8,80 juta kunjungan, yang berarti meningkat 9,42 persen
dibandingkan jumlah kunjungan wisman pada periode yang sama tahun 2012.
Kenaikan jumlah kunjungan wisman ini terjadi di sebagian besar pintu masuk
utama, dengan persentase kenaikan tertinggi tercatat di pintu masuk Bandara
Internasional Lombok (BIL), Nusa Tenggara Barat sebesar 137,08 persen, diikuti
Bandara Adi Sucipto, DI Yogyakarta 45,98 persen, dan Minangkabau, Sumatera
Barat 34,69 persen. Sementara itu, jumlah.kunjungan wisman yang mengalami
penurunan terjadi di enam pintu masuk dengan
penurunan tertinggi di Bandara Adi Sumarmo, Jawa Tengah sebesar 17,93
persen, dan terendah di Pelabuhan Tanjung Priok, DKI Jakarta 1,42 persen (
Berita Resmi Statistik No. 12/02/Th. XVII, 3 Februari 2014).
Sebagai
salah satu sektor penggerak perekonomian, tentu pariwisata tidak bisa terlepas dengan keberadaan sektor lainnya
seperti Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), karena adanya UMKM secara
langsung atau tidak langsung memproduksi barang dan jasa yang berhubungan
dengan pariwisata, seperti sektor restoran, rumah makan dan warung, sektor
hotel non bintang, sektor travel biro, sektor angkutan wisata, sektor money
changer, sektor atraksi budaya dan hiburan lainnya, sektor jasa peorangan,
rumahtangga dan pramuwisata, dan lain sebagainya. Oleh karena itu terlihat
jelas bahwa UMKM merupakan sektor yang memegang peranan penting dalam
perkembangan perekonomian NTB sekarang ini, khususnya sebagai penunjang sektor
pariwisata.
Kementerian
Koperasi dan UMKM juga menyatakan, jumlah UMKM di Indonesia kini mencapai 55,2
juta unit atau 99,98 persen dari total unit usaha Indonesia. Sektor ini telah
menyerap 101,72 juta orang tenaga kerja atau 97,3 persen dari total tenaga
kerja Indonesia. Deputi Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Koperasi dan
UMKM, Nedi Rafinaldi Halim mengatakan, sektor UMKM telah terbukti menopang
perekonomian nasional, menyediakan lapangan kerja dan menekan angka kemiskinan
serta meningkatkan kesejahteraan rakyat”. Dari kutipan diatas menunjukan bahwa
produsen tanah air sendiri sebagian besar merupakan pengusaha UMKM.
Akan tetapi, Sebagai sebuah sektor
perekonomian yang terbilang ampuh dalam penyerapan tenaga kerja, UMKM sendiri
juga memiliki banyak kendala dalam perkembangannya, diantaranya adalah
keterbatasan modal karena terkadang sulit memenuhi persyaratan akses pendanaan
dan pinjaman serta kurangnya memperoleh informasi terkait kesempatan permodalan
(Bapepam, 2011 : 2). Oleh karena itu untuk
memperkuat daya saing UMKM jelas tidak mungkin kalau hanya berharap pada
inisiatif dan niat baik UMKM sendiri, tetapi butuh sinergi dengan institusi
lain utamanya adalah
sentuhan mesra dari perbankan. Perbankan harus ikut aktif terlibat dalam
skenario pemberdayaan UMKM di tanah air. Keterlibatan secara aktif itu misalnya
bisa diwujudkan dengan kesungguhannya dalam menjalankan amanah yang digariskan
oleh Bank Indonesia (BI) tentang kewajiban bank nasional untuk mengucurkan
kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) minimal 20% secara bertahap.
Kewajiban itu tertuang dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor
14/22/PBI/2012 pada 21 Desember 2012 yang efektif pada tanggal tersebut.
Intinya, bank nasional wajib menyalurkan kredit UMKM minimal 20% dari kredit
produktif (kredit modal kerja dan kredit investasi) secara bertahap mulai 2013
hingga 2018. Hal itu dirinci dalam enam tahapan. Pada 2013 dan 2014, rasio
kredit atau pembiayaan UMKM terhadap total kredit atau pembiayaan sesuai
kemampuan bank umum pada Rencana Bisnis Bank (RBB). Pada 2015, rasio kredit
atau pembiayaan UMKM terhadap total kredit atau pembiayaan paling rendah 5%.
Berikutnya, rasio kredit atau pembiayaan UMKM terhadap total kredit atau
pembiayaan paling rendah 10% dan 15% masing-masing pada 2016 dan 2017. Pada
2018 dan seterusnya, rasio kredit atau pembiayaan UMKM terhadap total kredit
atau pembiayaan paling rendah 20% (Bappeda.jatimprov.go.id)
Aturan
itu diterbitkan dengan pertimbangan bahwa UMKM memiliki peran yang strategis
dalam struktur perekonomian nasional termasuk untuk mendukung pengendalian
inflasi. Selain itu, aturan tersebut bertujuan untuk memperkuat peran UMKM
dalam struktur perekonomian nasional. Hal
senada juga pernah disampaikan oleh Sabirin (2001) menjelaskan bahwa untuk memberdayakan masyarakat golongan
ekonomi lemah atau sektor usaha kecil adalah dengan menyediakan sumber
pembiayaan usaha yang terjangkau.
Oleh sebab itu, perlu mengembangkan UMKM melalui
peningkatan akses kredit atau pembiayaan dari perbankan pada segmen tersebut
“Symbiotic Mutualism Approach ; BRI dan UMKM
Peran
Perbankan Nasional dalam membangun ekonomi merupakan salah satu sektor yang
diharapkan berperan aktif dalam menunjang kegiatan pembangunan nasional atau
regional. Peran itu diwujudkan dalam fungsi utamanya sebagai lembaga
intermediasi atau institusi perantara antara debitor dan kreditor. Dengan
demikian, pelaku ekonomi yang membutuhkan dana untuk menunjang kegiatannya
dapat terpenuhi dan kemudian roda perekonomian bergerak.
Namun
sejatinya, sudah terdapat salah satu perbankan nasional yang cukup serius dan
ampuh dalam menggarap potensi UMKM yang ada, yakni Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Hal ini terlihat dari suksesnya’
kiprah Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebagai pemimpin pasar (market leader) kredit UMKM. Sehingga tidak heran BRI dikenal sebagai salah satu
perbangkan terbaik yang mampu bersaing dalam industri nasional (Aviliani,2010).
Dengan kantor BRI unit berjumlah 4.251 yang melayani jasa perbankan di rural
area dan pulau terpencil untuk micro
banking dan total jaringan online realtime
BRI berkisar 3.450 unit yang telah online pun dimaksudkan untuk pelayanan
masyarakat urban area dan sub urban. Kondisi ini memperlihatkan bahwa BRI
adalah bank komersial yang selalu mengutamakan kepuasan nasabah dari seluruh
tingkatan. Hal ini tidak terlepas dari bidang pengembangan bisnis yang
diterapkannya dalam mewujudkan corporate
performance excellence untuk menghadapi persaingan global.
Kinerja
yang kuat tersebut merupakan hasil nyata dari strategi yang diterapkan selama
tahun 2013, antara lain dengan memperkuat fokus pada segmen UMKM dengan tetap
mengedepankan kebijakan prudential banking, memperluas jaringan unit kerja
dan e-channel, serta melakukan pengembangan e-banking, termasuk juga produk dan
layanan berbasis IT lainnya yang menghasilkan fee based
income,
demikian disampaikan Muhamad Ali, Sekretaris Perusahaan BRI, dalam siaran pers,
Rabu (22/1/2014). (umkmcentre.narotama.ac.id) Nasabah UMKM BRI per Desember
2013 mencapai 8 juta orang. Meningkat dari Desember 2012 yang tercatat 6,8 juta
orang, atau naik 18,6%, dengan outstanding pinjamannya yang ikut naik dari Rp
260,42 triliun menjadi Rp 320,4 triliun. Begitupun penyaluran KUR BRI yang saat
ini terbesar di antara bank penyalur KUR lainnya. Hingga 31 Desember 2013,
posisi KUR BRI sudah menembus Rp 87 triliun, dengan jumlah debitur mencapai 9,2
juta nasabah. Sementara nasabah KUR BRI yang bermigrasi ke kredit komersial
telah berjumlah lebih dari 850 ribu debitur dengan plafon pinjaman mencapai Rp
13,6 triliun.
Namun
berita baik ini, jangan sampai melengahkan BRI sendiri untuk terus mampu
meningkatkan inovasi dalam pelayanannya. Hal ini guna
mengantisipasi pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN tahun 2015. Menurut Sofyan Basir, Direktur Utama BRI, perdagangan
bebas dalam MEA 2015 merupakan tantangan tersendiri bagi industri perbankan
nasional. "Sebab dari 600 juta populasi penduduk ASEAN, separuhnya ada di
Indonesia," kata Sofyan di Jakarta, Rabu, (26/3). Sehingga kondisi ini membuat Indonesia menjadi pasar paling
menarik di kawasan ASEAN, termasuk bagi kalangan industri perbankan. Sehingga
bank-bank asing negara tetangga akan makin banyak memasuki pasar Indonesia.
Oleh
karena itu untuk memperkuat ketahanan diri dalam menghadapi persaingan di MEA
2015 nantinya, BRI tentu diharapkan terus memperkuat sinergitas yang kuat
dengan sektor UMKM, sehingga BRI tetap memperlihatkan keberpihakannya pada
rakyat miskin (pro poor), membuka
lapangan kerja (pro job) serta
meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita (pro growth). Dengan penguatan ini menunjukkan bahwa kebijakan BRI
mampu mendukung program nasional yang pada gilirannya akan memberikan dampak
yang cukup baik bagi BRI sendiri, terutamnya terpeliharanya pangsa pasar yang
loyal sehingga berdampak pada peningkatan DPK BRI kedepan. Adanya proses
sinergitas yang saling menguntungkan ini (simbiotic mutualism approach) tentu
diharapkan akan menjadi alternaitif yang baik dalam menunjang perekonomian
daerah khususnya di NTB
Sebagai salah satu
sektor yang diharapkan untuk mempu memperkuat
perekonomian. BRI tentu tidak bisa berjalan sendiri tanpa melakukan
sinergitas yang kuat dengan lembaga-lembaga lainnya. Seperti Pemerintah (goverment), Universitas (Akademisi), dan pihak pebisnis (Business). Maka dari itu perlu adanya
penanaman peran yang cukup baik untuk bisa ikut andil dalam ketiga sektor
tersebut (A-B-G Perspective). Akademisi berperan sebagai
pemasok knowledge dan pengembang teknologi, bisnis atau pihak industri berperan
sebagai lokasi dan pengguna teknologi, sedangkan pemerintah berperan sebagai
fasilitator dan regulator yang memungkinkan interaksi antara pengembang
teknologi dan pengguna teknologi. Dalam kenyataan yang terjadi di Indonesia,
pernah adanya implementasi model Triple
helix (sinergitas hanya pada ketiga sektor :pemerintah, akademis, bisnis)
di negara kita banyak mengalami hambatan, dimana telah diidentifikasi beberapa
persoalan utama yang mendasari terjadinya hambatan tersebut di antaranya adalah keberadaan dan peran lembaga intermediasi sangat minim, padahal
kita ketahui bersama bahwa perannya sangat vital, yaitu memfasilitasi dan
sebagai penghubung antara pengembang teknologi (akademisi) dengan pengguna
teknologi (industri/bisnis). Oleh karena itu, peran dari lembaga perbangkan
mutlak dilakukan
Namun tidak bisa
dipungkiri, menjalin dan menyeimbangkan peran perbangkan dari ketiga pihak
yaitu akademisi, pemerintah dan pebisnis ini bukanlah hal mudah. Diperlukan
upaya yang berkesinambungan dan dinamis, sehingga setiap pihak diharapkan
selalu open-minded dan berusaha
melakukan yang terbaik demi kepentingan bersama. Ketiga pihak tidak dapat
bergerak sendiri, oleh karenanya diperlukan kerjasama yang sinergis dan
seimbang
Kesimpulan
Singkatnya,
UMKM adalah salah satu motor pengerak ekonomi di NTB. UMKM penting dilindungi
dan dikembangkan lebih besar untuk menopang pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Penguatan UMKM mutlak dilakukan sebelum diberlakukannya AEC 2015. Kita ingin
melihat UMKM NTB mampu menjadi tuan di negeri sendiri dan menjadi tamu
terhormat di negeri orang. Dalam penguatan UMKM tersebut, pihak perbangkan
memegang peranan vital dalam mendukung kelangsungan UMKM, utamanya dalam
penyaluran dana sebagai stimulus dalam operasionalnya. Namun selain itu juga
perbankan diharapkan tidak hanya memberikan intensif dalam kucuran dana, namun
juga memberikan inovasi educasi atau pelatihan terhadap UMKM dalam bersaing
dalam tataran global nantinya. Inovasi-inovasi ini dapat berjalan dengan baik,
manakali BRI mampu menempatkan perannya pada ketiga sektor penting seperti
Pemerintah (goverment), Universitas (Akademisi), dan pelaku bisnis (Business).

daftar pustaka untuk essay tidak d sertakan ya kk..??
BalasHapuskalau bisa disertakan dek, supaya data yg dimasukkan ke essayx lebih valid dan dapat dipertanggungjawabkan :). untuk essay di atas kk sengaja gak posting daftar pustakax dek
Hapuskalau bisa disertakan dek, supaya data yg dimasukkan ke essayx lebih valid dan dapat dipertanggungjawabkan :). untuk essay di atas kk sengaja gak posting daftar pustakax dek
BalasHapus