Jumat, 18 November 2016

Optimalisasi Potensi Gunung Rinjani Sebagai Geotoursm Destination Dalam rangka Menuju Global Geopark Network (GGN) , melalui Program BREC (Berugaq Rinjani Education Center) Based Community (Study kasus : Desa Senaru, kabupaten Lombok Utara, NTB)



Optimalisasi Potensi Gunung Rinjani Sebagai Geotoursm Destination Dalam rangka Menuju Global Geopark Network (GGN) , melalui Program BREC (Berugaq Rinjani Education Center) Based Community

(Study kasus : Desa Senaru, kabupaten Lombok Utara, NTB)
(JUARA 1 LOMBA KARYA TULIS ILMIAH TINGKAT BALI-NUSRA 2015_Abd.Gafur_abd.ghafur@unram.ac.id_082339512016)
Dosen pembimbing : Drs. Sarifudin, MM

ABSTRAK
Belum adanya lumbung pengetahuan di kawasan dusun tradisional Senaru adalah satu faktor di mana masyarakat belum mampu mendayagunakan potensi lokal untuk mendongkrak kesejahteraan dan melestarikan Gunung Rinjani. Masyarakat yang hidup di sekitar hutan sudah bergantung pada hasil hutan, sedangkan populasi penduduk semakin meningkat setiap tahun, sehingga tidak heran jika saat ini masih banyak ditemukan tindakan-tindakan  seperti penebangan liar serta pembakaran hutan, untuk itulah diperlukan sebuah solusi Di sisi lain, berbagai upaya telah dilakukan untuk mempersiapkan rinjani untuk masuk dalam Global Geopark Network (GGN), termasuk bagaimana mengoptimalkan potensi sumber daya manusia di daerah kawasan sehingga mampu mendayagunakan serta melestarikan potensi rinjani. Maka dari itu, munculnya ide pemberdayaan melalui Berugaq RINJANI Education Center (BREC) merupakan sebuah upaya yang bertujuan untuk membangun pendidikan secara berkelanjutan di kawasan Gunung Rinjani. BREC Senaru juga sebagai wadah pendidikan alternatif (sekolah alam) bersama. Dalam penyusunan karya tulis ini, langkah yang dilakukan penulis adalah mengumpulkan data dan informasi yang diperoleh dari buku, internet, dan beberapa jurnal lainnya. Selanjutnya penulis mengolah data tersebut dengan metode analisis deskriptif dan menfokuskan pada solusi penyelesaian masalah yang terjadi di kawasan Gunung Rinjani. Terdapat beberapa kesimpulan yang dapat dari diperoleh dari pembahasan karya tulis ini, yakni Gunung Rinjani secara administratif dan potensi alam sangat siap untuk masuk dalam Global Geopark Network (GGN) yang ditunjang dengan program BREC untuk memfasilitasi masyarakat untuk membangun kesadaran dan partisipasi dalam memanfaatkan potensi kawasan Gunung Rinjani.
keyword : Geopark,Gunung Rinjani, Pemberdayaan, Desa Senaru


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan yang dikaruniai kekayaan alam yang sangat melimpah, termasuk kekayaan keragaman geologi (geodiversity). Banyak dari keragaman geologi itu  merupakan warisan geologi (geoheritage) yang penting untuk pendidikan maupun sebagai aset wisata. Dalam rangka upaya melestarikan warisan geologi dan sekaligus memperoleh manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat dari keberadaan warisan geologi tersebut, maka konsep pembangunan melalui pengembangan taman Bumi atau Geopark kini menjadi pilihan yang menarik, termasuk di Indonesia (Masrul,2014)
Gunung rinjani sebagai icon pulau lombok yang merupakan kawasan strategis pariwisata Daerah (KSPD) ditetapkan dengan peraturan Daerah nomor 7 tahun 2013 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (Ripparda) dan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN)  yang telah ditetapkan dengan Peraturan pemerintah Nomer 20 tahun 2011 tentang rencana Induk pembangunan kepariwisataan Nasional (Ripparnas), telah resmi menjadi Geopark Nasional sejak tahun 2013 (Disbudpar.ntbprov.go.id, 2014). Sekarang ini, Gunung Rinjani dalam proses persiapan untuk diusulkan Pemerintah RI ke UNESCO sebagai Geopark Dunia pada 2016. Rencananya, Rinjani akan diusulkan bersama Gunung Merangin di Jambi (lombokpost.com,2015). Penetapan Geopark Nasional sebagai anggota GGN UNESCO akan menjadi ikon baru pariwisata Indonesia yang berbasis masyarakat dan konservasi sehingga lebih menarik minat wisatawan mancanegara untuk berkunjung
Namun permasalahannya, kesiapan sumber daya manusia dikawasan rinjani dinilai masih cukup rendah.  Ditengah potensi besar kawasan tersebut terdapat potret pendidikan yang menjadi ironi dan sekaligus mengusik nurani. Masyarakat disekitar kawasan hutan umumnya, mempunyai tingkat pendidikan yang masih kurang, dengan rata-rata pendidikan sampai sekolah dasar (SD),  meski ada juga yang sampai SLTP , SLTA sampai perguruan tinggi, tapi jumlahnya sangat kecil sekali (Departemen kehutanan, resume pengkajian zonasi Taman Nasional Gunung Rinjani, 2010). Sehingga dari rendahnya tingkat pendidikan tersebut berdampak pada kesenjangan social serta munculnya berbagai prilaku menyimpang dari masyarakat sekitar kawasan gunung rinjani seperti eksploitasi berlebihan terhadap kawasan hutan gunung rinjani.
Berbagai kebijakan dan program pemerintah dan para pihak yang berorientasi pada upaya pelestarian sumber daya hutan dan peningkatan ekonomi dan taraf hidup masyarakat sekitar hutan, khususnya di kawasan hutan Gunung Rinjani, telah banyak diimplementasikan. Program hutan kemasyarakatan (HKm) yang dilaksanakan oleh pemerintah sejak tahun 1998 di Pulau  sebagai contoh diakui telah mampu meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar kawasan hutan (Amiruddin, 2005; Faperta Unram, 2007). Tapi bersamaan dengan pelaksanaan HKm tersebut, justru dilaporkan kerusakan sumber daya hutan semakin meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan masyarakat melalui program HKm belum mampu memotivasi masyarakat untuk ikut melestarikan sumber daya hutan. Hal ini juga sangat tergantung pada pengetahuan, kesempatan, karakter individu, orientasi nilai, dan kesadaran masyarakat itu sendiri.
Jika permasalahan ini terus berlanjut, tentu akan menjadi kendala dalam proses persiapan rinjani menjadi geopark dunia. Mengingat dalam Guidelines And Criteria For National Geoparks Seeking Unesco’s Assistance To Join The Global Geoparks Network (GGN) (2010) Dijelaskan bahwa geopark tidak hanya sekedar dilihat dari sisi kegunungapian belaka. Faktor budaya dan pola kehidupan masyarakat di sekitarnya ikut menjadi pertimbangan utama. Pembentukan Geopark harus didasarkan pada dukungan masyarakat yang kuat dan keterlibatan masyarakat lokal, dikembangkan meskipun "bottom-up" proses. Ini harus menunjukkan dukungan yang kuat dari para pemimpin politik dan masyarakat setempat, termasuk dalam kaitannya dengan penyediaan sumber daya keuangan yang diperlukan. Geopark harus memiliki struktur manajemen yang efektif dan profesional, memberikan kebijakan dan tindakan untuk pembangunan sosial-ekonomi dan budaya yang berkelanjutan di seluruh daerah wilayah di mana ia berada. Kesuksesan hanya dapat dicapai melalui keterlibatan masyarakat lokal yang kuat. Inisiatif untuk membuat sebuah Geopark karena itu harus datang dari masyarakat lokal / pemerintah dengan komitmen yang kuat, sementara untuk melindungi daerah di mana mereka tinggal perlu mengembangkan dan menerapkan rencana manajemen yang memenuhi kebutuhan masyarakat dan ekonomi penduduk Lokal
Jika melihat peta permasalahan yang diuraikan di atas, disebabkan karena masih minimnya sarana dan  prasarana pendidikan  sekitar kawasan Gunung rinjani yang menjadi faktor  masyarakat belum mampu mendayagunakan potensi lokal untuk mendongkrak kesejahteraan pada khususnya dan melestarikan Gunung Rinjani pada umumnya. Sehingga penulis mencoba menggagas sebuah ide yang diberi judul Optimalisasi Potensi Gunung Rinjani Sebagai Geotoursm Destination Dalam rangka Menuju Global Geopark Network (GGN) , melalui Program BREC (Berugaq Rinjani Education Center) Based Community dengan study kasus di Desa Senaru, yakni salah satu desa di kawasan gunung rinjani yang terletak di kabupaten Lombok Utara, NTB.
1.2   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang dapat diambil yakni
1.      Bagaimana Kesiapan Gunung rinjani untuk masuk ke dalam Global Geopark Network (GGN) ?
2.      Bagaimanakah implementasi BREC (Berugak Rinjani Education Center) dalam mengoptimalkan potensi rinjani sebagai Geotoursm Destination ?
1.3  Tujuan penulisan
Adapun tujuan dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui sejauh mana kesiapan gunung Rinjani untuk masuk ke dalam Global Geopark Network (GGN)
2.      Untuk merumuskan strategi impelementasi dari BREC (Berugak Rinjani Education Center) dalam mengoptimalkan potensi rinjani sebagai Geotoursm Destination
1.4  Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah
1.      Bagi penulis
memperoleh pengalaman serta berbagai strategi dalam upaya membantu peningkatan masalah sosial masyarakat. Di samping itu, penulisan ini juga bisa menjadi refrensi untuk penulisan karya tulis berikutnya.
2.      Bagi masyarakat
Melalui tulisan ini dapat membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, serta mampu memaksimalkan potensi gunung rinjani
3.      Bagi pemerintah
Tulisan ini dapat menjadi pertimbangan dalam upaya membantu pemerintah guna meningkatkan pengetahuan masyarakat disekitar kawasan gunung rinjani sehingga meminimalisir tingkat kerusakan yang terjadi di kawasan gunung rinjani.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu
Untuk mendukung karya tulis ini, maka diperlukan beberapa penelitian terdahulu sebagai rujukan. Adapun penelitian terdahulu yang dianggap berkaitan dengan karya tulis yang dibuat yaitu:
1.      Penelitian tentang Geopark juga telah dilakukan oleh Farsani, dkk (2011) dengan judul “Geotourism and Geoparks as Novel Strategies for Socio-economic Development in Rural Areas”. Dengan menganalisa strategi geowisata di 25 geopark di dunia, penelitian ini menemukan bahwa pembentukan geopark dapat menghasilkan peluang kerja baru, kegiatan perekonomian baru, dan sumber tambahan pendapatan, terutama di daerah pedesaan. Pembentukan itu mendorong produksi lokal dan kerajinan lokal yang terlibat dalam Geotourism. Dalam penelitian ini, penulis hanya mencoba menguraikan tentang bagaimana melakukan pemberdayaan yang terfokus pada perspektif ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
2.      Penelitian yang dilakukan oleh  M. Siddik, Amiruddin dan Nuning Juniarsih yang berjudul Perilaku ekonomi masyarakat miskin di sekitar kawasan hutan gunung rinjani pulau Lombok(2013) Dalam penelitian ini penulis hanya menguraikan tentang prilaku menyimpang masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya di kawasan hutan gunung rinjani.
Dari kedua penelitian ini memiliki perbedaan dengan tulisan yang dibuat oleh penulis sekarang ini, terutama dalam hal perspektif yang digunakan. Penelitian pertama menguraikan perspektif ekonomi sedangkan penulisan saat ini lebih luas yakni pendidikan masyarakat, baik itu mengarah kepada pendidikan untuk pengetahuan mengelola lingkungan dan menata perekonomian. Sedangkan penelitian kedua juga hanya memaparkan mengenai prilaku menyimpang dikawasan hutan rinjani. Sehingga dapat penulis simpulkan bahwa tulisan ini memiliki perbedaan dari penelitian sebelumnya.
2.2  Gambaran Umum Desa Senaru
Desa Senaru merupakan bagian dari pemerintahan desa Bayan.  Desa yang luasnya sekitar 44 km2 ini terdiri dari 11 dusun yakni: Dasan  Baro, Sembulan Batu, Telaga Lenggundi, Kebaloan, Bon Gontor, Oma Segoar,  Lokoq Klungkung, Tumpang sari, Pawang Kreok, Lendang Cempaka dan Senaru. Dusun Senaru merupakan bagian dari lereng gunung Rinjani  dengan curah hujan rata-rata 2.379 mm/tahun, berketinggian sekitar 560 m dari permukaan 
laut (library.ohiou.edu)

Analisis Kondisi Masyarakat
Dari segi pendidikan formal, tingkat pendidikan masyarakat asli di dusun 
Senaru sangat rendah yakni hanya 12,5 %. Proses 
pendidikan yang dominan di kalangan masyarakat adat Senaru dari proses 
pengamatan adalah dalam kegiatan keseharian misalnya pelibatan anak dalam 
kegiatan di ladang maupun pekerjaan-pekerjaan domestik. Sedangkan proses 
pendidikan dalam hal agama, adat dan sistem kepercayaan nampak berjalan manakala dilangsungkan upacara adat ataupun keagamaan. Hampir semua anggota masyarakat asli Senaru menggantungkan hidupnya pada perladangan, sebagian kecil diantaranya sambilan berdagang, menjadi pramuwisata, porter dan beternak.  Sampai sekarang ini pun masih adanya sistem barter dalam transaksi jual beli, sehingga membuat uang yang beredar di lingkungan masyarakat asli Senaru sangat kecil (library.ohiou.edu)
2.3 Pengertian Geopark dan Syarat Menjadi Global Geopark Network (GGN)
Menurut UNESCO (2004), Geopark adalah sebuah kawasan yang memiliki unsur-unsur geologi terkemuka (outstanding) termasuk nilai arkeologi, ekologi dan budaya yang ada di dalamnya di mana masyarakat setempat diajak berperan-serta untuk melindungi dan meningkatkan fungsi warisan alam. Melalui Geopark, warisan geologi itu digunakan untuk mendorong kesadaran masyarakat atas isu-isu yang dihadapinya berkaitan dengan dinamika kebumian yang terjadi di sekitar mereka. Sehingga masyarakat dapat lebih menghargai warisan yang ada dan memiliki kesadaran untuk menjaga warisan tersebut.
            Berdasarkan Guidelines And Criteria For National Geoparks Seeking Unesco’s Assistance To Join The Global Geoparks Network (GGN) ( 2010), bahwa terdapat beberapa persyarakatan yang harus dipenuhi untuk menjadi Global Geopark Network (GGN), yakni :
1.      Ukuran dan pengaturan
Sebuah Geopark yang ingin menjadi anggota dari GGN adalah daerah dengan batas-batas yang jelas dan area yang cukup besar untuk itu untuk melayani pembangunan ekonomi dan budaya lokal (khususnya melalui pariwisata). Setiap Geopark meskipun harus menampilkan berbagai situs internasional, regional dan / atau kepentingan nasional, sejarah geologi suatu daerah, dan peristiwa-peristiwa dan proses yang membentuknya. Situs mungkin penting dari sudut pandang ilmu pengetahuan, pendidikan kelangkaan, dan / atau estetika.
2.      Manajemen dan keterlibatan masyarakat lokal
Sebuah prasyarat untuk setiap proposal yang disetujui Geopark adalah pembentukan sistem manajemen yang efektif dan program pelaksanaan. Kehadiran singkapan geologi mengesankan dan internasional signifikan saja tidak cukup untuk menjadi Geopark . Apabila diperlukan, fitur geologi dan non-geologi dalam area Geopark harus dapat diakses oleh pengunjung, terkait dengan satu sama lain dan dijaga meskipun pengelola (manajemen) yang jelas bertanggung jawab atau kemitraan yang memiliki dukungan lokal dibuktikan. Pengelola (manajemen) atau kemitraan harus memiliki infrastruktur manajemen yang efektif, personil yang berkualitas yang memadai, dan dukungan keuangan yang berkelanjutan.
3.      Pembangunan ekonomi
Salah satu tujuan strategis utama Geopark adalah untuk menstimulasi kegiatan ekonomi dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. Sebuah Geopark mencari bantuan UNESCO berfungsi untuk mendorong pembangunan sosio-ekonomi yang secara kultural dan lingkungan yang berkelanjutan. Ini memiliki dampak langsung pada daerah yang terlibat dengan meningkatkan kondisi kehidupan manusia dan lingkungan pedesaan dan perkotaan. Ini memperkuat identifikasi penduduk pada daerah mereka, dan merangsang "kebanggaan tempat" dan pengembangan budaya, yang pada gilirannya membantu perlindungan langsung dari warisan geologi
2.4  Konsep Pemberdayaan BREC (Berugaq Rinjani Education Center) Based Community
Keterlibatan warga dalam pengembangan pariwisata menjadi hal yang krusial, sebab dari merekalah akan diketahui dan dipahami sejauh mana potensi wilayahnya. Selain itu, keterlibatan ini sangat penting untuk mendapatkan dukungan dan memastikan bahwa hal yang akan diperoleh berkaitan dengan kebutuhan dan keuntungan warga setempat.Partisipasi masyarakat hakekatnya bukan semata mendorong terjadinya proses penguatan kapasitas masyarakat lokal, namun dapat berlaku sebagai sebuah mekanisme guna meningkatan pemberdayaan bagi warga untuk terlibat dalam pembangunan secara bersama. Mubyarto (1988) menegaskan partisipasi merupakan kesediaan membantu berhasilnya program sesuai dengan kemampuan setiap orang tanpa berarti harus mengorbankan kepentingan sendiri. Partisipasi intinya ialah sikap sukarela dari masyarakat untuk membantu keberhasilan program pembangunan. Selain itu, partisipasi juga dapat dimaknai sebagai bentuk keterlibatan mental sekaligus emosional seseorang dalam situasi kelompok yang mendorong mereka untuk ikut serta menyumbangkan kemampuan dalam mencapai tujuan kelompok dan ikut bertanggung jawab atas tujuan kelompok tersebut.
BREC merupakan wadah pendidikan alternative bersama yang di desain sebagai sekolah alam untuk masyarakat kawasan rinjani, khususnya di desa senaru. Munculnya konsep pendirian wadah pendidikan ini tentu tidak terlepas dari tujuan yang ingin dicapai yakni ; (1) Sebagai tempat alih pengetahuan antara wisaatwan/pendaki dan masyarakat adat, (2) Sebagai tempat memperkenalkan Gn. Rinjani dan adat sasak (3) Sebagai shelter digital masyarakat/wisatawan/pendaki.
Kehadiran BREC di tengah-tengah masyarakat diharapkan akan membangun kesadaran yang pada akhirnya menciptakan partisipasi masyarakat untuk membangun potensi local, khususnya di kawasan gunung rinjani.  Dengan adanya kesadaran dan partispasi yang tinggi tentu saja akan melahirkan keoptimisan untuk menjadikan Rinjani sebagai salah satu geopark yang masuk dalam Global Geopark Network (GGN)

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Tulisan
Penulisan ini merupakan jenis penulisan deskriptif dengan pendekatan kualitatif yaitu prosedur penulisan yang menghasilkan data deskriptif (uraian terhadap suatu peristiwa atau masalah) berupa kata-kata tertulis dari orang-orang dan perilaku yang diamati tidak secara langsung, atau studi kasus tunggal dan dalam satu lokasi saja yang menekankan pada paradigma analisis masalah yang holistik dan rinci (Tim Penulis Universitas Negeri Malang, 2004).
3.2 Jenis Data
Dalam penulisan ini, jenis data yang digunakan adalah data sekunder, data sekunder yaitu sumber data penulisan yang diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara atau diperoleh dan dicatat oleh pihak lain. Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan, atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip (data dokumenter), baik yang dipublikasikan maupun tidak dipublikasikan (Moelong, 2004). Dalam melakukan pengkajian, data yang telah ada dari hasil peneliti-peneliti lain dikumpulkan dan diseleksi. Analisis dan sintesis dilakukan sehingga diperoleh suatu konsep bahwa terdapat korelasi positif antara efektifitas proses deradikalisasi dengan system pengembangan pancasila.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penulisan ini adalah: (1) Studi pustaka, (2) Dokumenter, (3) Diskusi dan (4) Intuitif-Subjektif (Indiarto dan Supomo, 1999).
3.4 Teknik Analisa Data
Berdasarkan permasalahan yang tertulis pada rumusan masalah dan pendekatan penulisan yang digunakan, penulis menganalisa data-data yang diperoleh dengan metode analisa deskriptif yang dilakukan dalam penulisan ini terjadi secara bolak balik dan berinteraktif, yang terdiri dari: 1) Pengumpulan data (data collection),2) Reduksi data (data reduction), 3) Penyajian data (data display), 4) Pemaparan dan penegasan kesimpulan (conclution drawing and verification) (Moelong, 2004).

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1  Kesiapan Gunung Rinjani Untuk Masuk ke Dalam Global Geopark Network (GGN)
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Tim Geopark Badan Geologi dan Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat, berupa dokumen (dosier) Geopark Rinjani Lombok sesuai dengan pedoman Geopark Global Network (GGN) UNESCO. Disamping itu telah dibuat pula tiga lampiran sebagai referensi yang terdiri atas Buku I (Referensi Geodiversity Geopark Rinjani Lombok), Buku II (Referensi Biodiversity Geopark Rinjani Lombok), dan Buku III (Referensi Cultural Diversity Geopark Rinjani lombok. Disamping telah berhasil menyusun dokumen (dosier), juga telah berhasil dibentuk kelembagaan secara demokratis yang akan mengelola Geopark Rinjani Lombok. Pengurus dari kelembagaan, terdiri dari berbagai unsur masyarakat dan pemangku kepentingan yang diikuti oleh empat kabupaten dan satu kota (Lombok Tengah, Lombok Barat, Lombok Timur, Lombok Utara , dan Kota Mataram). Khusus untuk situs- situs yang terdapat di kawasan Geopark Rinjani Lombok yang telah teridentifikasi adalah untuk situs geologi berjumlah 48 dan situs non geologi berjumlah 24 yang tersebar di bagian barat, utara, tengah, timur, dan selatan. Situs geologi yang dijumpai berupa pantai gunung api, pulau, air terjun, kaldera, kerucut gunung api, danau kaldera, aliran lava, gua, mata air panas,ignimbrit, dan lahan bekas tambang. Untuk situs non geologi antara lain terdiri dari situs keragaman flora dan fauna, serta situs budaya (Rachmat,2014)
Rinjani,diusulkan menjadi calon geopark dunia ke UNESCO karena memiliki sedikitnya lima hal pokok untuk menjadi geopark global.
1.      Gunung Rinjani memiliki nilai-nilai warisan geologi penting dari aspek kegunungapian, situs warisan alam berupa kaldera, kerucut-kerucut gunung api muda, lapangan solfatara, mata air panas, dan bentangan lainnya yang mempunyai nilai estetika tinggi seperti air terjun.
2.      Situs-situs geologi gunung api mempunyai makna bagi pengembangan ilmu pengetahuan kebumian dan pendidikan.
3.      Gunung Rinjani telah mempunyai badan pengelola, yakni Rinjani Tracking Manajemen Board (RTMB), yang melibatkan warga lokal setempat secara aktif.
4.      Penyelenggara pariwisata berbasis geologi yang telah banyak memberi manfaat berupa pertumbuhan ekonomi lokal melalui jasa pemandu, penginapan, rumah makan, transportasi, dan penjualan cendera mata.
5.      Sebagai bentuk keberhasilan pengembangan pariwisata karena Gunung Rinjani telah memperoleh tiga penghargaan internasional yakni "World Legacy Award" untuk kategori "Destination Stewardship" dari "Conservation International and National Geographic Traveler" 2004, finalis "Tourism for Tomorrow Award" masing-masing tahun  2005 dan 2008 (Geomagz, 2012)
Tabel 1. Rencana Usulan Indonesia Ke GGN UNESCO


4.2  Strategi Implementasi BREC (Berugaq Rinjani Education Center) dalam Memaksimalkan Potensi Gunung Rinjani
Dalam pengelolaan kawasan geopark terdapat tiga unsur utama, yaitu regulasi, infrastruktur, dan pemberdayaan masyarakat lokal (community development). (Geomagz,2012)

Gambar 2.  Pilar Pengembangan Geopark

Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Borrini- Feyerabend et al. (2000) bahwa kelestarian ekologi dan ekonomi dimungkinkan dapat dicapai bilamana pengelolaan sumberdaya senantiasa memperhatikan kehidupan dan penghidupan masyarakat lokal. pemikiran tersebut didasarkan pada sejumlah fakta bahwa masyarakat lokal terbukti mampu mengatur pembagian peran di antara mereka , memberi jaminan keadilan pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya hutan, serta tanggung jawab dalam mempertahankan kelestarian sumberdaya hutan.
Pembentukan Geopark harus didasarkan pada dukungan masyarakat yang kuat dan keterlibatan masyarakat lokal, dikembangkan meskipun "bottom-up" proses. Ini harus menunjukkan dukungan yang kuat dari para pemimpin politik dan masyarakat setempat, termasuk dalam kaitannya dengan penyediaan sumber daya keuangan yang diperlukan. Geopark harus memiliki struktur manajemen yang efektif dan profesional, memberikan kebijakan dan tindakan untuk pembangunan sosial-ekonomi dan budaya yang berkelanjutan di seluruh daerah wilayah di mana ia berada. Kesuksesan hanya dapat dicapai melalui keterlibatan masyarakat lokal yang kuat. Inisiatif untuk membuat sebuah Geopark karena itu harus datang dari masyarakat lokal / pemerintah dengan komitmen yang kuat, sementara untuk melindungi daerah di mana mereka tinggal perlu mengembangkan dan menerapkan rencana manajemen yang memenuhi kebutuhan masyarakat dan ekonomi penduduk local.
Gambar 3. Kerangka Pembangunan Geopark




            Oleh karena itulah diperlukan sebuah wadah yang lebih menyentuh lagi selain adanya lembaga formal yang jumlahnya pun relative sedikit untuk membangun sumber daya masyarakat dikawasan rinjani ini.  Wadah ini dinamakan BREC (Berugaq Rinjani Education Center), yakni sebuah wadah pendidikan alternative (sekolah alam) bersama. Adanya sinergisitas alih pengetahuan dari wisatawan/pendaki untuk meningkatkan kesadaran serta partisipasi masyarakat merupakan sebuah mimpi untuk diwujudkan bersama. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Drake dan Paula (dalam Garrod, 2001:6) adalah:
1)      mengkonsultasikan proyek dengan masyarakat atau melibatkan masyarakat dalam manajemen penerapan proyek atau pengoperasian proyek dapat meningkatkan efisiensi proyek.
2)      efektifitas proyek jauh lebih meningkat dengan mengikutsertakan masyarakat yang dapat membantu memastikan jika tujuan proyek bisa ditemukan dan keuntungan akan diterima kelompok atau masyarakat local.
3)      sebagai capacity building bagi kelompok masyarakat agar mereka memahami apa itu ekowisata dan peranannya dalam pembangunan berkelanjutan. (terjamin bahwa yang terlibat sangat nampak keikutsertaannya secara aktif dalam proyek dengan pelatihan formal atau informal serta kegiatan untuk meningkatkan keperdulian.
4)      pemberdayaan lokal meningkat dengan memberi masyarakat lokal kontrol yang lebih besar terhadap sumber daya dan memutuskan penggunakan sumber daya yang berpengaruh/penting sesuai dengan tempat tinggal mereka, artinya menjamin jika masyarakat lokal menerima keuntungan yang sesuai dengan penggunaan sumber daya.
5)      pembagian keuntungan dengan warisan lokal (lokal beneficiaries), misal biaya tenaga kerja, biaya keuangan, operasional dan perawatan proyek atau monitoring dan evaluasi proyek.
4.2.1        Pihak yang dapat mendukung keberlangsungan program BREC (Berugak Rinjani Education Center)
Dalam proses pemberdayaan melalui BREC, maka diperlukan adanya dukungan pihak-pihak tertentu yang diharapkan akan mampu membantu dalam keberlangsungan program tersebut. Adapun pihak-pihak tersebut antara lain :
1.      Pemerintah : peran pemerintah dalam hal ini adalah untuk menyediakan para ahli yang berkaitan dalam bidang pemberdayaan pariwisata sekaligus memberikan sarana dan prasarana dalam mendukung proses pemberdayaan.
2.      Akademisi: para peneliti yang merupakan salah satu penggerak dari inovasi ini berperan dalam meneliti lebih lanjut atas pendekatan-pendekatan pemberdayaan yang digunakan, serta mencoba mencari alternatif inovatif.
3.      Pelaku Bisnis, sebagai pendukung dalam bidang perekonomian, yakni sebagai tempat pemberdayaan masyarakat dalam bidang usaha.
4.      Masyarakat : memberikan persetujuan, dukungan, dan kepercayaan terhadap pemberdayaan yang dilakukan oleh seluruh stakeholders.
Gambar 4. Gambaran Struktur Kerjasama BREC dengan Stakeholders 



BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari uraian pembahasan di atas, maka terdapat beberapa kesimpulan yang di dapat, yaitu :
1.      Rinjani merupakan salah satu warisan geologi yang memiliki potensi cukup besar dan siap masuk ke dalam Global Geopark Network (GGN). Kesiapan ini terlihat dari dukungan dari sisi administratif oleh pihak pemerintah serta potensi alam rinjani yang sangat mendukung untuk dijadikan sebagai Geopark Dunia.
2.      Selain dari sisi administratife dan potensi alam, persyaratan lain  yang harus dipenuhi untuk masuk ke dalam Global Geopark Network (GGN) yaitu, adanya Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni untuk mampu mengolah kawasan rinjani. Karena dengan adanya masyarakat yang berkualitas, maka kelestarian dan kebermanfaatan kawasan rinjani dapat di optimalkan secara seimbang.
3.      Berugak Rinjani Education Center, merupakan salah satu program untuk mendukung terciptanya sumber daya manusia yang handal. Melalui pendekatan pemberdayaan yang berbasis masyarakat yang nantinya berdampak pada peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam mengoptimalkan potensi Kawasan Gunung Rinjani
5.2 Saran
Untuk menjamin kelancaran dari program ini, maka diperlukan sinergitas antar stakeholders (Pemerintah, Akademis, Pelaku Usaha, Masyarakat), sehingga dampak yang ditimbulkanpun lebih besar. 

*Daftar pustaka sengaja tidak dicantumkan
NB : Di larang keras menjiplak (copy paste) tanpa izin penulis :)

4 komentar:

  1. keren dek, jadi terinspirasi untuk mempublikasikan tulisannya kakak juga lewat media blog,

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah, mohon kritikan dan saran untuk tulisan selanjutnya.
      ditunggu kak publikasinya supaya bisa kita baca dan ambil manfaatnya kak, he ketimbang di dalam laptop kan :)

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. makasih kk sgt bermanfaat, untuk refrensi. dtunggu tulisan"nya yg mnginspirasi lainnya

    BalasHapus