Optimalisasi Potensi Gunung Rinjani Sebagai Geotoursm Destination Dalam rangka Menuju Global Geopark Network (GGN) , melalui Program BREC (Berugaq Rinjani Education Center) Based Community
(Study kasus : Desa Senaru, kabupaten Lombok
Utara, NTB)
(JUARA 1 LOMBA KARYA TULIS ILMIAH TINGKAT BALI-NUSRA 2015_Abd.Gafur_abd.ghafur@unram.ac.id_082339512016)
Dosen
pembimbing : Drs. Sarifudin, MM
ABSTRAK
Belum
adanya lumbung pengetahuan di kawasan dusun tradisional Senaru adalah satu
faktor di mana masyarakat belum mampu mendayagunakan potensi lokal untuk
mendongkrak kesejahteraan dan melestarikan Gunung Rinjani. Masyarakat yang
hidup di sekitar hutan sudah bergantung pada hasil hutan, sedangkan populasi
penduduk semakin meningkat setiap tahun, sehingga tidak heran jika saat ini
masih banyak ditemukan tindakan-tindakan
seperti penebangan liar serta pembakaran hutan, untuk itulah diperlukan
sebuah solusi Di sisi lain, berbagai upaya telah dilakukan untuk mempersiapkan
rinjani untuk masuk dalam Global Geopark
Network (GGN), termasuk bagaimana mengoptimalkan potensi sumber daya
manusia di daerah kawasan sehingga mampu mendayagunakan serta melestarikan
potensi rinjani. Maka dari itu, munculnya ide pemberdayaan melalui Berugaq
RINJANI Education Center (BREC) merupakan sebuah upaya yang bertujuan
untuk membangun pendidikan secara berkelanjutan di kawasan Gunung Rinjani. BREC Senaru juga sebagai wadah
pendidikan alternatif (sekolah alam) bersama. Dalam penyusunan karya
tulis ini, langkah yang dilakukan penulis adalah mengumpulkan data dan
informasi yang diperoleh dari buku, internet, dan beberapa jurnal lainnya.
Selanjutnya penulis mengolah data tersebut dengan metode analisis deskriptif
dan menfokuskan pada solusi penyelesaian masalah yang terjadi di kawasan Gunung
Rinjani. Terdapat beberapa kesimpulan yang dapat dari diperoleh dari pembahasan
karya tulis ini, yakni Gunung Rinjani secara administratif dan potensi alam
sangat siap untuk masuk dalam Global Geopark Network (GGN) yang ditunjang
dengan program BREC untuk memfasilitasi masyarakat untuk membangun kesadaran
dan partisipasi dalam memanfaatkan potensi kawasan Gunung Rinjani.
keyword : Geopark,Gunung Rinjani, Pemberdayaan,
Desa Senaru
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan yang dikaruniai
kekayaan alam yang sangat melimpah, termasuk kekayaan keragaman geologi (geodiversity). Banyak dari keragaman
geologi itu merupakan warisan geologi (geoheritage) yang penting untuk
pendidikan maupun sebagai aset wisata. Dalam rangka upaya melestarikan warisan geologi
dan sekaligus memperoleh manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat
dari keberadaan warisan geologi tersebut, maka konsep pembangunan melalui
pengembangan taman Bumi atau Geopark kini menjadi pilihan yang menarik,
termasuk di Indonesia (Masrul,2014)
Gunung rinjani sebagai icon
pulau lombok yang merupakan kawasan strategis pariwisata Daerah (KSPD) ditetapkan
dengan peraturan Daerah nomor 7 tahun 2013 tentang Rencana Induk Pembangunan
Kepariwisataan Daerah (Ripparda) dan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional
(KSPN) yang telah ditetapkan dengan
Peraturan pemerintah Nomer 20 tahun 2011 tentang rencana Induk pembangunan
kepariwisataan Nasional (Ripparnas), telah resmi menjadi Geopark Nasional sejak
tahun 2013 (Disbudpar.ntbprov.go.id, 2014). Sekarang ini, Gunung Rinjani dalam proses persiapan untuk diusulkan
Pemerintah RI ke UNESCO sebagai Geopark Dunia pada 2016. Rencananya,
Rinjani akan diusulkan bersama Gunung Merangin di Jambi (lombokpost.com,2015).
Penetapan Geopark Nasional sebagai anggota GGN UNESCO akan menjadi ikon baru
pariwisata Indonesia yang berbasis masyarakat dan konservasi sehingga lebih menarik
minat wisatawan mancanegara untuk berkunjung
Namun
permasalahannya, kesiapan sumber daya manusia dikawasan rinjani dinilai masih
cukup rendah. Ditengah potensi besar kawasan tersebut terdapat potret
pendidikan yang menjadi ironi dan sekaligus mengusik nurani. Masyarakat disekitar kawasan hutan umumnya,
mempunyai tingkat pendidikan yang masih kurang, dengan rata-rata pendidikan
sampai sekolah dasar (SD), meski ada
juga yang sampai SLTP , SLTA sampai perguruan tinggi, tapi jumlahnya sangat
kecil sekali (Departemen kehutanan, resume pengkajian zonasi Taman Nasional
Gunung Rinjani, 2010). Sehingga dari rendahnya tingkat pendidikan tersebut berdampak pada
kesenjangan social serta munculnya berbagai prilaku menyimpang dari masyarakat
sekitar kawasan gunung rinjani seperti eksploitasi berlebihan terhadap kawasan
hutan gunung rinjani.
Berbagai kebijakan
dan program pemerintah dan para pihak yang berorientasi pada upaya pelestarian
sumber daya hutan dan peningkatan ekonomi dan taraf hidup masyarakat sekitar
hutan, khususnya di kawasan hutan Gunung Rinjani, telah banyak
diimplementasikan. Program hutan kemasyarakatan (HKm) yang dilaksanakan oleh
pemerintah sejak tahun 1998 di Pulau
sebagai contoh diakui telah mampu meningkatkan pendapatan masyarakat di
sekitar kawasan hutan (Amiruddin, 2005; Faperta Unram, 2007). Tapi bersamaan
dengan pelaksanaan HKm tersebut, justru dilaporkan kerusakan sumber daya hutan
semakin meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan masyarakat
melalui program HKm belum mampu memotivasi masyarakat untuk ikut melestarikan
sumber daya hutan. Hal ini juga sangat tergantung pada pengetahuan, kesempatan,
karakter individu, orientasi nilai, dan kesadaran masyarakat itu sendiri.
Jika permasalahan ini
terus berlanjut, tentu akan menjadi kendala dalam proses persiapan rinjani
menjadi geopark dunia. Mengingat dalam Guidelines
And Criteria For National Geoparks Seeking Unesco’s Assistance To Join The
Global Geoparks Network (GGN) (2010) Dijelaskan bahwa geopark tidak hanya sekedar
dilihat dari sisi kegunungapian belaka. Faktor budaya dan pola kehidupan
masyarakat di sekitarnya ikut menjadi pertimbangan utama. Pembentukan
Geopark harus didasarkan pada dukungan masyarakat yang kuat dan keterlibatan
masyarakat lokal, dikembangkan meskipun "bottom-up" proses. Ini harus menunjukkan dukungan yang kuat
dari para pemimpin politik dan masyarakat setempat, termasuk dalam kaitannya
dengan penyediaan sumber daya keuangan yang diperlukan. Geopark harus memiliki
struktur manajemen yang efektif dan profesional, memberikan kebijakan dan
tindakan untuk pembangunan sosial-ekonomi dan budaya yang berkelanjutan di
seluruh daerah wilayah di mana ia berada. Kesuksesan hanya dapat dicapai
melalui keterlibatan masyarakat lokal yang kuat. Inisiatif untuk membuat sebuah
Geopark karena itu harus datang dari masyarakat lokal / pemerintah dengan
komitmen yang kuat, sementara untuk melindungi daerah di mana mereka tinggal
perlu mengembangkan dan menerapkan rencana manajemen yang memenuhi kebutuhan
masyarakat dan ekonomi penduduk Lokal
Jika melihat peta permasalahan yang diuraikan di atas, disebabkan karena
masih minimnya sarana dan
prasarana pendidikan sekitar kawasan Gunung rinjani yang menjadi faktor masyarakat belum mampu mendayagunakan potensi
lokal untuk mendongkrak kesejahteraan pada khususnya dan melestarikan Gunung
Rinjani pada umumnya. Sehingga penulis mencoba menggagas sebuah ide
yang diberi judul Optimalisasi Potensi
Gunung Rinjani Sebagai Geotoursm Destination Dalam rangka
Menuju Global Geopark Network (GGN) ,
melalui Program BREC (Berugaq Rinjani
Education Center) Based Community
dengan study kasus di Desa Senaru, yakni salah satu desa di kawasan gunung
rinjani yang terletak di kabupaten Lombok Utara, NTB.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang di atas, maka rumusan masalah yang dapat diambil yakni
1.
Bagaimana
Kesiapan Gunung rinjani untuk masuk ke dalam Global Geopark Network (GGN) ?
2.
Bagaimanakah
implementasi BREC (Berugak Rinjani Education
Center) dalam mengoptimalkan potensi rinjani sebagai Geotoursm Destination ?
1.3 Tujuan
penulisan
Adapun tujuan dari penulisan karya tulis
ilmiah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui sejauh mana kesiapan gunung
Rinjani untuk masuk ke dalam Global
Geopark Network (GGN)
2. Untuk merumuskan strategi impelementasi dari
BREC (Berugak Rinjani Education Center)
dalam mengoptimalkan potensi rinjani sebagai Geotoursm Destination
1.4 Manfaat
Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan karya tulis
ilmiah ini adalah
1. Bagi penulis
memperoleh pengalaman serta berbagai strategi
dalam upaya membantu peningkatan masalah sosial masyarakat. Di samping itu, penulisan
ini juga bisa menjadi refrensi untuk penulisan karya tulis berikutnya.
2. Bagi masyarakat
Melalui tulisan ini dapat membangun kesadaran
masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, serta mampu
memaksimalkan potensi gunung rinjani
3. Bagi pemerintah
Tulisan ini dapat menjadi pertimbangan dalam
upaya membantu pemerintah guna meningkatkan pengetahuan masyarakat disekitar
kawasan gunung rinjani sehingga meminimalisir tingkat kerusakan yang terjadi di
kawasan gunung rinjani.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu
Untuk mendukung karya tulis ini, maka diperlukan beberapa
penelitian terdahulu sebagai rujukan. Adapun penelitian terdahulu yang dianggap
berkaitan dengan karya tulis yang dibuat yaitu:
1. Penelitian
tentang Geopark juga telah dilakukan oleh Farsani, dkk (2011) dengan judul “Geotourism
and Geoparks as Novel Strategies for Socio-economic Development in Rural
Areas”. Dengan menganalisa strategi geowisata di 25 geopark di
dunia, penelitian ini menemukan bahwa pembentukan geopark dapat
menghasilkan peluang kerja baru, kegiatan perekonomian baru, dan sumber
tambahan pendapatan, terutama di daerah pedesaan. Pembentukan itu mendorong
produksi lokal dan kerajinan lokal yang terlibat dalam Geotourism. Dalam penelitian ini, penulis hanya mencoba
menguraikan tentang bagaimana melakukan pemberdayaan yang terfokus pada
perspektif ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
2. Penelitian yang dilakukan oleh M.
Siddik, Amiruddin dan Nuning Juniarsih yang berjudul “Perilaku ekonomi masyarakat miskin di sekitar
kawasan hutan gunung rinjani pulau Lombok” (2013) Dalam
penelitian ini penulis hanya menguraikan tentang prilaku menyimpang masyarakat
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya di kawasan hutan gunung rinjani.
Dari kedua penelitian ini memiliki perbedaan dengan tulisan yang dibuat
oleh penulis sekarang ini, terutama dalam hal perspektif yang digunakan.
Penelitian pertama menguraikan perspektif ekonomi sedangkan penulisan saat ini
lebih luas yakni pendidikan masyarakat, baik itu mengarah kepada pendidikan
untuk pengetahuan mengelola lingkungan dan menata perekonomian. Sedangkan
penelitian kedua juga hanya memaparkan mengenai prilaku menyimpang dikawasan
hutan rinjani. Sehingga dapat penulis simpulkan bahwa tulisan ini memiliki
perbedaan dari penelitian sebelumnya.
2.2 Gambaran
Umum Desa Senaru
Desa Senaru merupakan bagian dari pemerintahan desa Bayan. Desa yang luasnya sekitar 44 km2 ini terdiri
dari 11 dusun yakni: Dasan Baro,
Sembulan Batu, Telaga Lenggundi, Kebaloan, Bon Gontor, Oma Segoar, Lokoq Klungkung, Tumpang sari, Pawang
Kreok, Lendang Cempaka dan Senaru. Dusun Senaru merupakan bagian dari lereng
gunung Rinjani dengan curah hujan rata-rata 2.379 mm/tahun,
berketinggian sekitar 560 m dari permukaan
laut (library.ohiou.edu)
laut (library.ohiou.edu)
Analisis Kondisi
Masyarakat
Dari segi
pendidikan formal, tingkat pendidikan masyarakat asli di dusun
Senaru sangat rendah yakni hanya 12,5 %. Proses
pendidikan yang dominan di kalangan masyarakat adat Senaru dari proses
pengamatan adalah dalam kegiatan keseharian misalnya pelibatan anak dalam
kegiatan di ladang maupun pekerjaan-pekerjaan domestik. Sedangkan proses
pendidikan dalam hal agama, adat dan sistem kepercayaan nampak berjalan manakala dilangsungkan upacara adat ataupun keagamaan. Hampir semua anggota masyarakat asli Senaru menggantungkan hidupnya pada perladangan, sebagian kecil diantaranya sambilan berdagang, menjadi pramuwisata, porter dan beternak. Sampai sekarang ini pun masih adanya sistem barter dalam transaksi jual beli, sehingga membuat uang yang beredar di lingkungan masyarakat asli Senaru sangat kecil (library.ohiou.edu)
Senaru sangat rendah yakni hanya 12,5 %. Proses
pendidikan yang dominan di kalangan masyarakat adat Senaru dari proses
pengamatan adalah dalam kegiatan keseharian misalnya pelibatan anak dalam
kegiatan di ladang maupun pekerjaan-pekerjaan domestik. Sedangkan proses
pendidikan dalam hal agama, adat dan sistem kepercayaan nampak berjalan manakala dilangsungkan upacara adat ataupun keagamaan. Hampir semua anggota masyarakat asli Senaru menggantungkan hidupnya pada perladangan, sebagian kecil diantaranya sambilan berdagang, menjadi pramuwisata, porter dan beternak. Sampai sekarang ini pun masih adanya sistem barter dalam transaksi jual beli, sehingga membuat uang yang beredar di lingkungan masyarakat asli Senaru sangat kecil (library.ohiou.edu)
2.3 Pengertian Geopark dan Syarat Menjadi Global Geopark Network (GGN)
Menurut UNESCO (2004), Geopark adalah sebuah kawasan
yang memiliki unsur-unsur geologi terkemuka (outstanding) termasuk nilai arkeologi, ekologi dan budaya yang ada
di dalamnya di mana masyarakat setempat diajak berperan-serta untuk melindungi
dan meningkatkan fungsi warisan alam. Melalui Geopark, warisan geologi itu digunakan
untuk mendorong kesadaran masyarakat atas isu-isu yang dihadapinya berkaitan
dengan dinamika kebumian yang terjadi di sekitar mereka. Sehingga masyarakat
dapat lebih menghargai warisan yang ada dan memiliki kesadaran untuk menjaga
warisan tersebut.
Berdasarkan Guidelines And Criteria For National Geoparks Seeking Unesco’s
Assistance To Join The Global Geoparks Network (GGN) ( 2010), bahwa
terdapat beberapa persyarakatan yang harus dipenuhi untuk menjadi Global Geopark Network (GGN), yakni :
1.
Ukuran dan
pengaturan
Sebuah Geopark yang ingin menjadi anggota
dari GGN adalah daerah dengan batas-batas yang jelas dan area yang cukup besar
untuk itu untuk melayani pembangunan ekonomi dan budaya lokal (khususnya
melalui pariwisata). Setiap Geopark meskipun harus menampilkan berbagai situs
internasional, regional dan / atau kepentingan nasional, sejarah geologi suatu
daerah, dan peristiwa-peristiwa dan proses yang membentuknya. Situs mungkin
penting dari sudut pandang ilmu pengetahuan, pendidikan kelangkaan, dan / atau
estetika.
2.
Manajemen
dan keterlibatan masyarakat lokal
Sebuah prasyarat untuk setiap proposal yang
disetujui Geopark adalah pembentukan sistem manajemen yang efektif dan program
pelaksanaan. Kehadiran singkapan geologi mengesankan dan internasional
signifikan saja tidak cukup untuk menjadi Geopark . Apabila diperlukan, fitur
geologi dan non-geologi dalam area Geopark harus dapat diakses oleh pengunjung,
terkait dengan satu sama lain dan dijaga meskipun pengelola (manajemen) yang
jelas bertanggung jawab atau kemitraan yang memiliki dukungan lokal dibuktikan.
Pengelola (manajemen) atau kemitraan harus memiliki infrastruktur manajemen
yang efektif, personil yang berkualitas yang memadai, dan dukungan keuangan
yang berkelanjutan.
3.
Pembangunan
ekonomi
Salah satu tujuan strategis utama Geopark
adalah untuk menstimulasi kegiatan ekonomi dalam kerangka pembangunan
berkelanjutan. Sebuah Geopark mencari bantuan UNESCO berfungsi untuk mendorong
pembangunan sosio-ekonomi yang secara kultural dan lingkungan yang
berkelanjutan. Ini memiliki dampak langsung pada daerah yang terlibat dengan
meningkatkan kondisi kehidupan manusia dan lingkungan pedesaan dan perkotaan.
Ini memperkuat identifikasi penduduk pada daerah mereka, dan merangsang
"kebanggaan tempat" dan pengembangan budaya, yang pada gilirannya
membantu perlindungan langsung dari warisan geologi
2.4 Konsep
Pemberdayaan BREC (Berugaq Rinjani
Education Center) Based Community
Keterlibatan warga dalam pengembangan pariwisata
menjadi hal yang krusial, sebab dari merekalah akan diketahui dan dipahami
sejauh mana potensi wilayahnya. Selain itu, keterlibatan ini sangat penting
untuk mendapatkan dukungan dan memastikan bahwa hal yang akan diperoleh
berkaitan dengan kebutuhan dan keuntungan warga setempat.Partisipasi masyarakat
hakekatnya bukan semata mendorong terjadinya proses penguatan kapasitas
masyarakat lokal, namun dapat berlaku sebagai sebuah mekanisme guna meningkatan
pemberdayaan bagi warga untuk terlibat dalam pembangunan secara bersama.
Mubyarto (1988) menegaskan partisipasi merupakan kesediaan membantu berhasilnya
program sesuai dengan kemampuan setiap orang tanpa berarti harus mengorbankan
kepentingan sendiri. Partisipasi intinya ialah sikap sukarela dari masyarakat
untuk membantu keberhasilan program pembangunan. Selain itu, partisipasi juga
dapat dimaknai sebagai bentuk keterlibatan mental sekaligus emosional seseorang
dalam situasi kelompok yang mendorong mereka untuk ikut serta menyumbangkan
kemampuan dalam mencapai tujuan kelompok dan ikut bertanggung jawab atas tujuan
kelompok tersebut.
BREC merupakan wadah
pendidikan alternative bersama yang di desain sebagai sekolah alam untuk
masyarakat kawasan rinjani, khususnya di desa senaru. Munculnya konsep
pendirian wadah pendidikan ini tentu tidak terlepas dari tujuan yang ingin
dicapai yakni ; (1) Sebagai tempat
alih pengetahuan antara wisaatwan/pendaki dan masyarakat adat, (2) Sebagai tempat memperkenalkan Gn.
Rinjani dan adat sasak (3) Sebagai shelter digital
masyarakat/wisatawan/pendaki.
Kehadiran BREC di
tengah-tengah masyarakat diharapkan akan membangun kesadaran yang pada akhirnya
menciptakan partisipasi masyarakat untuk membangun potensi local, khususnya di
kawasan gunung rinjani. Dengan adanya
kesadaran dan partispasi yang tinggi tentu saja akan melahirkan keoptimisan
untuk menjadikan Rinjani sebagai salah satu geopark yang masuk dalam Global Geopark Network (GGN)
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Tulisan
Penulisan ini merupakan jenis penulisan deskriptif dengan pendekatan
kualitatif yaitu prosedur penulisan yang menghasilkan data deskriptif (uraian
terhadap suatu peristiwa atau masalah) berupa kata-kata tertulis dari
orang-orang dan perilaku yang diamati tidak secara langsung, atau studi kasus
tunggal dan dalam satu lokasi saja yang menekankan pada paradigma analisis
masalah yang holistik dan rinci (Tim Penulis Universitas Negeri Malang, 2004).
3.2 Jenis Data
Dalam penulisan ini, jenis data yang
digunakan adalah data sekunder, data sekunder yaitu sumber data penulisan yang
diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara atau diperoleh dan
dicatat oleh pihak lain. Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan, atau
laporan historis yang telah tersusun dalam arsip (data dokumenter), baik yang
dipublikasikan maupun tidak dipublikasikan (Moelong, 2004). Dalam melakukan
pengkajian, data yang telah ada dari hasil peneliti-peneliti lain dikumpulkan
dan diseleksi. Analisis dan sintesis dilakukan sehingga diperoleh suatu konsep
bahwa terdapat korelasi positif antara efektifitas proses deradikalisasi dengan
system pengembangan pancasila.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan untuk
mengumpulkan data dalam penulisan ini adalah: (1) Studi pustaka, (2) Dokumenter,
(3) Diskusi dan (4) Intuitif-Subjektif (Indiarto dan Supomo, 1999).
3.4 Teknik Analisa Data
Berdasarkan
permasalahan yang tertulis pada rumusan masalah dan pendekatan penulisan yang
digunakan, penulis menganalisa data-data yang diperoleh dengan metode analisa
deskriptif yang dilakukan dalam penulisan ini terjadi secara bolak balik dan
berinteraktif, yang terdiri dari: 1) Pengumpulan data (data collection),2)
Reduksi data (data reduction), 3) Penyajian data (data display),
4) Pemaparan dan penegasan kesimpulan (conclution drawing and verification)
(Moelong, 2004).
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Kesiapan
Gunung Rinjani Untuk Masuk ke Dalam Global
Geopark Network (GGN)
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Tim Geopark
Badan Geologi dan Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat, berupa dokumen
(dosier) Geopark Rinjani Lombok sesuai dengan pedoman Geopark Global Network (GGN) UNESCO. Disamping itu telah dibuat
pula tiga lampiran sebagai referensi yang terdiri atas Buku I (Referensi
Geodiversity Geopark Rinjani Lombok), Buku II (Referensi Biodiversity Geopark
Rinjani Lombok), dan Buku III (Referensi Cultural Diversity Geopark Rinjani
lombok. Disamping telah berhasil menyusun dokumen (dosier), juga telah berhasil
dibentuk kelembagaan secara demokratis yang akan mengelola Geopark Rinjani
Lombok. Pengurus dari kelembagaan, terdiri dari berbagai unsur masyarakat dan
pemangku kepentingan yang diikuti oleh empat kabupaten dan satu kota (Lombok
Tengah, Lombok Barat, Lombok Timur, Lombok Utara , dan Kota Mataram). Khusus
untuk situs- situs yang terdapat di kawasan Geopark Rinjani Lombok yang telah
teridentifikasi adalah untuk situs geologi berjumlah 48 dan situs non geologi
berjumlah 24 yang tersebar di bagian barat, utara, tengah, timur, dan selatan.
Situs geologi yang dijumpai berupa pantai gunung api, pulau, air terjun,
kaldera, kerucut gunung api, danau kaldera, aliran lava, gua, mata air
panas,ignimbrit, dan lahan bekas tambang. Untuk situs non geologi antara lain
terdiri dari situs keragaman flora dan fauna, serta situs budaya (Rachmat,2014)
Rinjani,diusulkan
menjadi calon geopark dunia ke UNESCO karena memiliki
sedikitnya lima hal pokok untuk menjadi geopark global.
1. Gunung
Rinjani memiliki nilai-nilai warisan geologi penting dari aspek kegunungapian, situs
warisan alam berupa kaldera, kerucut-kerucut gunung api muda, lapangan
solfatara, mata air panas, dan bentangan lainnya yang mempunyai nilai estetika
tinggi seperti air terjun.
2. Situs-situs
geologi gunung api mempunyai makna bagi pengembangan ilmu pengetahuan kebumian
dan pendidikan.
3. Gunung
Rinjani telah mempunyai badan pengelola, yakni Rinjani Tracking Manajemen Board (RTMB), yang melibatkan warga
lokal setempat secara aktif.
4. Penyelenggara
pariwisata berbasis geologi yang telah banyak memberi manfaat berupa
pertumbuhan ekonomi lokal melalui jasa pemandu, penginapan, rumah makan,
transportasi, dan penjualan cendera mata.
5. Sebagai
bentuk keberhasilan pengembangan pariwisata karena Gunung Rinjani telah
memperoleh tiga penghargaan internasional yakni "World Legacy Award" untuk kategori "Destination Stewardship" dari "Conservation International and National Geographic Traveler"
2004, finalis "Tourism for Tomorrow
Award" masing-masing tahun 2005
dan 2008 (Geomagz, 2012)
4.2 Strategi
Implementasi BREC (Berugaq Rinjani
Education Center) dalam Memaksimalkan Potensi Gunung Rinjani
Dalam pengelolaan kawasan geopark terdapat
tiga unsur utama, yaitu regulasi, infrastruktur, dan pemberdayaan masyarakat
lokal (community development). (Geomagz,2012)
Gambar 2.
Pilar Pengembangan Geopark
Hal ini senada
dengan apa yang disampaikan oleh Borrini- Feyerabend et al. (2000) bahwa kelestarian
ekologi dan ekonomi dimungkinkan dapat dicapai bilamana pengelolaan sumberdaya
senantiasa memperhatikan kehidupan dan penghidupan masyarakat lokal. pemikiran
tersebut didasarkan pada sejumlah fakta bahwa masyarakat lokal terbukti mampu
mengatur pembagian peran di antara mereka , memberi jaminan keadilan
pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya hutan, serta tanggung jawab dalam
mempertahankan kelestarian sumberdaya hutan.
Pembentukan Geopark
harus didasarkan pada dukungan masyarakat yang kuat dan keterlibatan masyarakat
lokal, dikembangkan meskipun "bottom-up"
proses. Ini harus menunjukkan dukungan yang kuat dari para pemimpin politik dan
masyarakat setempat, termasuk dalam kaitannya dengan penyediaan sumber daya
keuangan yang diperlukan. Geopark harus memiliki struktur manajemen yang
efektif dan profesional, memberikan kebijakan dan tindakan untuk pembangunan
sosial-ekonomi dan budaya yang berkelanjutan di seluruh daerah wilayah di mana
ia berada. Kesuksesan hanya dapat dicapai melalui keterlibatan masyarakat lokal
yang kuat. Inisiatif untuk membuat sebuah Geopark karena itu harus datang dari
masyarakat lokal / pemerintah dengan komitmen yang kuat, sementara untuk
melindungi daerah di mana mereka tinggal perlu mengembangkan dan menerapkan
rencana manajemen yang memenuhi kebutuhan masyarakat dan ekonomi penduduk
local.
Oleh karena itulah diperlukan sebuah
wadah yang lebih menyentuh lagi selain adanya lembaga formal yang jumlahnya pun
relative sedikit untuk membangun sumber daya masyarakat dikawasan rinjani
ini. Wadah ini dinamakan BREC (Berugaq Rinjani Education Center), yakni
sebuah wadah pendidikan alternative (sekolah alam) bersama. Adanya sinergisitas
alih pengetahuan dari wisatawan/pendaki untuk meningkatkan kesadaran serta
partisipasi masyarakat merupakan sebuah mimpi untuk diwujudkan bersama. Hal ini
seperti yang dijelaskan oleh Drake dan Paula (dalam Garrod, 2001:6) adalah:
1) mengkonsultasikan
proyek dengan masyarakat atau melibatkan masyarakat dalam manajemen penerapan
proyek atau pengoperasian proyek dapat meningkatkan efisiensi proyek.
2) efektifitas
proyek jauh lebih meningkat dengan mengikutsertakan masyarakat yang dapat
membantu memastikan jika tujuan proyek bisa ditemukan dan keuntungan akan
diterima kelompok atau masyarakat local.
3) sebagai
capacity building bagi kelompok masyarakat agar mereka memahami apa itu
ekowisata dan peranannya dalam pembangunan berkelanjutan. (terjamin bahwa yang
terlibat sangat nampak keikutsertaannya secara aktif dalam proyek dengan
pelatihan formal atau informal serta kegiatan untuk meningkatkan keperdulian.
4) pemberdayaan
lokal meningkat dengan memberi masyarakat lokal kontrol yang lebih besar
terhadap sumber daya dan memutuskan penggunakan sumber daya yang berpengaruh/penting
sesuai dengan tempat tinggal mereka, artinya menjamin jika masyarakat lokal
menerima keuntungan yang sesuai dengan penggunaan sumber daya.
5) pembagian
keuntungan dengan warisan lokal (lokal beneficiaries), misal biaya
tenaga kerja, biaya keuangan, operasional dan perawatan proyek atau monitoring
dan evaluasi proyek.
4.2.1
Pihak
yang dapat mendukung keberlangsungan program BREC (Berugak Rinjani Education
Center)
Dalam
proses pemberdayaan melalui BREC, maka diperlukan adanya dukungan pihak-pihak
tertentu yang diharapkan akan mampu membantu dalam keberlangsungan program
tersebut. Adapun pihak-pihak tersebut antara lain :
1.
Pemerintah : peran pemerintah dalam hal
ini adalah untuk menyediakan para ahli yang berkaitan dalam bidang pemberdayaan
pariwisata sekaligus memberikan sarana dan prasarana dalam mendukung proses
pemberdayaan.
2.
Akademisi: para peneliti yang merupakan
salah satu penggerak dari inovasi ini berperan dalam meneliti lebih lanjut atas
pendekatan-pendekatan pemberdayaan yang digunakan, serta mencoba mencari
alternatif inovatif.
3.
Pelaku Bisnis, sebagai pendukung dalam
bidang perekonomian, yakni sebagai tempat pemberdayaan masyarakat dalam bidang
usaha.
4.
Masyarakat : memberikan persetujuan,
dukungan, dan kepercayaan terhadap pemberdayaan yang dilakukan oleh seluruh
stakeholders.
Gambar 4. Gambaran Struktur Kerjasama BREC
dengan Stakeholders
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari uraian
pembahasan di atas, maka terdapat beberapa kesimpulan yang di dapat, yaitu :
1. Rinjani merupakan salah satu warisan geologi
yang memiliki potensi cukup besar dan siap masuk ke dalam Global Geopark Network (GGN). Kesiapan ini terlihat dari dukungan
dari sisi administratif oleh pihak pemerintah serta potensi alam rinjani yang
sangat mendukung untuk dijadikan sebagai Geopark Dunia.
2. Selain dari sisi administratife dan potensi
alam, persyaratan lain yang harus
dipenuhi untuk masuk ke dalam Global Geopark Network (GGN) yaitu, adanya Sumber
Daya Manusia (SDM) yang mumpuni untuk mampu mengolah kawasan rinjani. Karena
dengan adanya masyarakat yang berkualitas, maka kelestarian dan kebermanfaatan
kawasan rinjani dapat di optimalkan secara seimbang.
3. Berugak
Rinjani Education Center,
merupakan salah satu program untuk mendukung terciptanya sumber daya manusia
yang handal. Melalui pendekatan pemberdayaan yang berbasis masyarakat yang
nantinya berdampak pada peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam
mengoptimalkan potensi Kawasan Gunung Rinjani
5.2 Saran
Untuk
menjamin kelancaran dari program ini, maka diperlukan sinergitas antar
stakeholders (Pemerintah, Akademis, Pelaku Usaha, Masyarakat), sehingga dampak
yang ditimbulkanpun lebih besar.
*Daftar pustaka sengaja tidak dicantumkan
NB : Di larang keras menjiplak (copy paste) tanpa izin penulis :)

keren dek, jadi terinspirasi untuk mempublikasikan tulisannya kakak juga lewat media blog,
BalasHapusalhamdulillah, mohon kritikan dan saran untuk tulisan selanjutnya.
Hapusditunggu kak publikasinya supaya bisa kita baca dan ambil manfaatnya kak, he ketimbang di dalam laptop kan :)
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusmakasih kk sgt bermanfaat, untuk refrensi. dtunggu tulisan"nya yg mnginspirasi lainnya
BalasHapus